Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah dalam acara MPR Goes to Campus yang mengangkat tema “Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim.” Seminar ini menghadirkan Wakil Ketua MPR RI, akademisi, Dr. Ir. Machmud Effendy, dan mahasiswa UMM yang membahas masa depan energi Indonesia.
Dalam seminar ini, Dr. Eddy Soeparno menyoroti tantangan besar yang dihadapi Indonesia. Pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%, yang berimbas pada meningkatnya kebutuhan energi secara drastis.
Namun, lanjut Eddy, hingga kini, energi fosil masih mendominasi 61% pembangkitan listrik nasional. Sedangkan energi terbarukan baru mencapai 14% dari target 23% di 2025.
“Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan hingga 3.700 GW, tetapi pemanfaatannya masih minim. Jika kita tidak bergerak cepat, ketergantungan pada energi fosil akan semakin membebani lingkungan dan ekonomi kita,” ujar Eddy, Selasa (18/3/2025) di GKB IV, aula lantai 9 UMM.
Indonesia memiliki cadangan energi terbarukan yang besar dari matahari (3.300 GW), panas bumi, air, angin, dan arus laut. Namun ironisnya, negara ini masih harus mengimpor BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dalam kesempatan ini, Dosen Teknik Elektro UMM, Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng., IPM., Asean Eng., menegaskan bahwa transisi energi adalah langkah yang tidak bisa ditunda.
“Selain mengurangi emisi karbon, transisi ke energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil,” katanya.
Berbagai solusi yang harus segera dilakukan, pertama, elektrifikasi massal untuk sektor transportasi, industri, dan rumah tangga. Kedua, percepatan pengembangan jaringan gas untuk rumah tangga.
“Kita juga perlu peningkatan kualitas bahan bakar seperti Diesel B40 dan Biofuel. Penonaktifan PLTU tua dan peningkatan teknologi co-firing. Terakhir, investasi dalam teknologi CCS (Carbon Capture and Storage) untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Effendy.
Sekretaris Universitas UMM, Prof. Dr. Sidik Sunaryo, M.Si., M.Hum., menekankan bahwa perguruan tinggi harus mengambil peran aktif dalam kebijakan energi nasional.

“Kampus bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat riset dan inovasi. UMM siap berkontribusi dalam transisi energi melalui penelitian dan pengembangan teknologi energi terbarukan,” ujar Prof. Sidik.
MPR RI juga menyatakan kesiapan mereka untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif. MPR RI terus memperkuat sinergi antara pemerintah dan akademisi dalam pengembangan energi terbarukan.
Transisi energi bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang ekonomi dan daya saing bangsa. Jika Indonesia ingin mencapai Net Zero Emission (NZE) di 2060, peran kampus seperti UMM sangatlah penting. (dan/but)






