Pasuruan (beritajatim.com) – Kasus kematian ternak babi di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, terus bertambah. Hasil uji laboratorium yang dilakukan tujuh hari sebelumnya telah keluar, mengonfirmasi bahwa kematian ternak tersebut disebabkan oleh African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.
“Hasil labnya sudah keluar, dan hasilnya ternak babi yang meninggal positif ASF. Penyakit ini sangat berbahaya jika terkena ternak babi,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiah, Rabu (26/2/2025).
Alfi, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa jumlah kematian ternak babi meningkat drastis dari awalnya 60 ekor menjadi 170 ekor. Data menunjukkan bahwa 150 ekor babi mati di Desa Sedaeng, sementara 20 ekor lainnya di Desa Wonokitri.
Akibat lonjakan kasus ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan mengimbau para peternak untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan guna menekan penyebaran ASF.
“Kami memberikan beberapa himbauan kepada sejumlah peternak yakni dengan melakukan enam tahap pencegahan. Dengan diterapkannya ini, kasus meninggalnya ternak babi tidak terulang lagi,” tambahnya.
Alfi menjelaskan bahwa pencegahan ASF dapat dilakukan dengan menerapkan biosekuriti yang ketat dan manajemen peternakan yang baik. Selain itu, peternak diimbau untuk memperketat pengawasan lalu lintas babi, memberikan pengobatan serta mengisolasi ternak yang terinfeksi, serta rutin menyemprotkan disinfektan di kandang. [ada/beq]






