Aku masih ingat betul pertemuan terakhirku dengan Coach Bejo Sugiantoro. Hari itu, Sabtu, 22 Februari 2025, di sebuah restoran Jepang di Tunjungan Plaza, Surabaya. Aku tak pernah menyangka bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir kami.
Bejo bukan sekadar seorang pelatih. Dia legenda sepak bola, sosok flamboyan yang selalu punya cara unik dalam berbagi pengalaman dan motivasi. Sebagai jurnalis yang sering meliput perjalanan Deltras FC, aku kerap berbincang dengannya—tentang strategi, tentang para pemain, bahkan tentang hal-hal kecil yang terjadi di tim sepanjang musim.
Ia sering mengajakku berdiskusi saat ada pemain yang menghadapi masalah atau sekadar membahas kondisi mereka. “Mbak, kemarin pemain A sharing dengan saya, berdiskusi dengan saya,” ucapnya suatu ketika, matanya berbinar seperti biasa.
Namun, hari itu ada yang berbeda. Biasanya, setiap bertemu, Bejo akan banyak bercerita, bertanya kabar, atau bahkan bercanda. Tapi siang itu, ekspresinya sedikit terkejut melihatku. “Mbak sama siapa?” tanyanya singkat, tidak seperti biasanya.
Ia tersenyum, lalu menoleh ke cucunya yang ada di sampingnya. “Ayo, Ahmad, salaman dulu dengan Tante Wahyu,” katanya lembut sambil menggandeng tangan si kecil. Aku membalas senyumannya, berusaha menangkap kehangatan yang selalu ia bawa dalam setiap pertemuan.
Tak hanya itu, Bejo berkali-kali menyuruhku untuk menjumpai putranya, Rahmad Irianto. “Sana, salaman dulu sama Rahmad,” katanya dengan nada yang khas. Seakan ingin memastikan aku bertemu dengan anaknya, seperti ada sesuatu yang ingin ia titipkan dalam pertemuan itu.
Tak lama kemudian, Rahmad berpamitan padaku dan rekan-rekanku. Bejo menyusul di belakangnya, lalu menoleh padaku sambil tersenyum lebar. “Mbak, nggak usah dibayar, sudah dibayar Rian,” candanya.
Kami semua tertawa ringan. Aku tak mengira bahwa momen kecil itu akan menjadi kenangan terakhir bersamanya. Kini, setelah ia pergi, setiap obrolan, tawa, dan bincang santai kami serasa kembali berputar di kepalaku.
Selamat jalan, Coach Bejo. Kenangan bersamamu akan selalu tersimpan dalam ingatan. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. Legenda Persebaya Surabaya sekaligus pelatih Deltras FC, Bejo Sugiantoro, meninggal dunia pada usia 48 tahun, Selasa (25/2/2025) sore.
Bejo mengalami kolaps saat bermain fun football di Lapangan SIER, Surabaya. Ia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Royal, Rungkut, namun nyawanya tak tertolong. [way/suf]






