Yogyakarta (beritajatim.com) – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan perannya sebagai salah satu pusat keilmuan di Indonesia dengan mengukuhkan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum atau karib disapa Prof Titik.
Prof Titik yang juga Dekan Fakultas Filsafat UGM dikukuhkan sebagai Guru Besar pada tanggal 20 Februari 2025 dihadiri oleh jajaran akademisi, mahasiswa, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.
Sejumlah tokoh hadir Menteri Komdigi Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria yang juga suami Prof Murtiningsih, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Basuki Hadimuljono, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Prof. Mahfud MD, Wakil Menteri HAM Mugiyanto Sipin, Komisaris Independen dan PLN Andie Arief.
Nampak juga undangan lainnya Yenny Wahid putri Gus Dur, Lilo KLA Project, sejumlah aktivis gerakan Pro Demokrasi tahun 90-an dari Filsafat UGM Roy (Pak Tua), Web Warouw, Hari Subagyo, Zainal dari DPP Prabowo Budiman Bersatu (Prabu), kalangan Media seperti beritajatim.com dan lain-lain.
Dalam pidato pengukuhannya Prof Murtiningsih menghadirkan perspektif revolusioner tentang peran kecerdasan buatan dalam membentuk masa depan pendidikan.
Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul ‘Mendidik Manusia Bersama Mesin: Filsafat Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan’, dia menyampaikan kritik terhadap ekstremisme dalam adopsi teknologi pendidikan.
Prof Murtiningsih menyatakan pedagogi Freirean mengkritik model pendidikan gaya bank yang mungkin terjadi ketika pembelajaran selalu bergantung pada mesin.
“Kontribusi utama pedagogi kritis ala Freire adalah kritiknya terhadap konsep pendidikan gaya bank (banking education concept). Layaknya perbankan, hubungan murid dan guru sebatas transaksional, guru mengembalikan “deposito pengetahuan” kepada muridnya yang pasif,” terangnya.
Lebih lanjut, konsep ini mengacu pada metode pendidikan tradisional di mana guru berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, sementara murid dianggap sebagai wadah kosong yang hanya menerima informasi tanpa berpikir kritis.
Hubungan antara guru dan murid sangatlah pasif, tanpa dialog, apalagi partisipasi untuk mengembangkan nalar kritis
Kritik ini juga menyoroti keterbatasan teknologi seperti ChatGPT yang kurang mendorong proses dialog transformatif dan emansipatoris bagi peserta didik.
“Mereka diperlakukan hanya sebagai penerima pengetahuan yang pasif, tetapi tidak pernah terlibat langsung pada proses dialogis dan partipatif agar melatih nalar kritis mereka. Meskipun ChatGPT sangat efisien dalam menyebarkan informasi yang terstruktur, tetapi masih belum mampu mereplikasi aspek-aspek afektif dan relasional dalam dunia,” kata Prof Murti.
Selain itu, ketergantungannya pada algoritma berbasis data menimbulkan juga kekhawatiran etis tentang dampak kesenjangan digital, ketidaksetaraan akses, terutama bagi mereka yang memiliki ‘hak istimewa’
Pandangan Freire tentang keadilan distribusi pengetahuan dalam proses integrasi AI dan pendidikan patut untuk menjadi prioritas utama, terutama dalam hal literasi digital kritis, sehingga mendorong peserta didik untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menantang struktur sosial-politik yang tertanam dalam teknologi tersebut
“Ide ‘mendidik manusia bersama mesin’ ini adalah upaya menjadikan mesin sebagai kolaborator manusia dalam proses pendidikan,” ujarnya.
Pelibatan mesin dalam proses pendidikan sejatinya lebih banyak memberikan peluang model-model pembelajaran baru yang lebih kreatif, menawarkan pula pengalaman pembelajaran yang lebih dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan guru dan murid, dan bahkan hasil pembelajaran yang diperoleh dapat menjadi bagian dari analisis data yang lebih inklusif.
Mendemokratisasi pendidikan artinya menjadikan pendidikan lebih inklusif.
Inklusivitas dapat dimulai dengan menghentikan proses sistem pendidikan kapitalistik yang hanya mengkomodifikasi pengetahuan dan menjadikan siswa hanya sebagai konsumen konten data digitial tanpa menjadikannya sebagai alat untuk membebaskan peserta didik.
“Jika hal itu terjadi kembali, maka apa yang dibayangkan oleh Freire tentang pendidikan gaya bank akan tetap ada, bedanya teknologi lebih banyak berperan untuk mempertahankan status quo kekuasaan,” kata Prof Titik.
Literasi digital, literasi kecerdasan artifisial, dan etika penggunaan mesin dalam dunia pendidikan perlu ditinjau kembali dan masuk dalam kurikulum pendidikan baru.
Kebijaksaan ini diperlukan untuk menangani masalah etis, menghindari praktik data yang invasif, dan menolak komodifikasi pendidikan ‘gaya bank’
Tujuan utama pendidikan menurut Paulo Freire adalah menghilangkan pendidikan monologis, guru sebagai satusatunya pusat pengetahuan, sampai struktur hirarkis antara guru dan murid.
Pedagogi kritis menjadi mungkin ketika institusi pendidikan mulai memperkenalkan ruang-ruang dialogis berbasis pada refleksi kritis dan pemecahan masalah.
Dalam rangka meradikalkan konsepnya, Freire menambahkan palingan dua langkah: “melihat ke masa lalu untuk pemahaman masa kini sehingga mampu mengantisipasi kesalahan di masa depan”.
Melalui semangat masa depan yang revolusioner (revolutionary futurity), secara praktis, Paulo Freire menitik-beratkan pada penguatan kapasitas pendidikan yang ada.
Pernyataan Freire “Aku tidak ada, aku tidak menjadi, kecuali kamu ada, kecuali kamu menjadi,” menyoroti adanya saling ketergantungan eksistensial antara manusia sekaligus menekankan implikasi etis terhadap kemanusiaan.
Lebih lanjut, Freire menempatkan penyelesaian dehumanisasi dalam agensi dari mereka yang tertindas. \
Ia berpendapat bahwa saat yang tertindas berjuang untuk kemanusiaan mereka, mereka secara bersamaan memulihkan kemanusiaan yang hilang dari para penindas.
Proses transformasi ini berakar pada kemampuan mereka yang tertindas untuk berani merebut kembali kekuasaan dan keadilan, bukan untuk kembali mendominasi, tetapi untuk menghancurkan struktur penindasan.
Dalam konteks harapan (hope) sebagai kebutuhan pandangan ontologis, Freire mengontraskannya dengan fatalisme, yang ia kritik sebagai kekuatan yang mengasingkan individu dan menghambat tindakan transformasi. Dengan menegaskan kemungkinan perubahan, Freire menempatkan harapan sebagai elemen penting dalam perjuangan untuk humanisasi.(ted)






