Mojokerto (beritajatim.com) – Aira Lubna, dara muda asal Mojokerto yang kini tengah mencuri perhatian publik lewat perannya sebagai Ayu dalam film horor terbaru Desa Mati The Movie. Aira, yang merupakan siswi kelas 8 SMP Taruna Nusa Harapan (TNH) Kota Mojokerto, telah merambah dunia hiburan sejak usia dini dan kini tampil sebagai salah satu pemeran utama di film garapan sutradara Sipu Groso yang akan tayang pada 6 Maret 2025 mendatang.
Aira Lubna yang lahir di Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, awalnya memulai karir di dunia modeling sejak 2018. Dengan wajah yang ayu dan bakat yang menonjol, ia berhasil meraih Juara 1 Foto Genic yang membuka jalannya ke dunia hiburan. Tak lama kemudian, Aira mulai berakting, dan peran pertama yang ia ambil adalah dalam film horor Kembang Kantil saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas I.
Perjalanan akting Aira berlanjut dengan film Rasuk 2 yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, di mana ia beradu akting dengan artis ternama Nikita Willy. Meski mengaku bahwa genre horor bukan tantangan besar, Aira mengungkapkan bahwa peran-peran tersebut sangat disukainya.
“Tidak serta merta dapat tawaran main di film layar lebar. Jatuh bangun juga tapi setelah tawaran film pertama itu, langsing dapat tawaran film kedua. Iya genre film horor, perannya menurutnya tidak terlalu menantang tapi anaknya suka,” ungkap sang ibu, Erti Sofiya, Selasa (18/2/2025).
Setelah dua film horor, Aira juga sempat membintangi sinetron Nyi Roro Kidul yang diproduksi oleh MNC Pictures. Meski hanya bermain dalam lima episode, Aira merasa sinetron tersebut cukup menguras tenaga, terlebih dengan tema drama kolosal yang membutuhkan energi ekstra. Selain itu, ia juga terlibat dalam acara reality show Si Kecil Tangguh sebagai sosok donatur.
Kini, di usia yang masih muda, Aira kembali berperan di film horor ketiganya, Desa Mati, di mana ia memerankan karakter Ayu, seorang anak kecil yang dipasung di sebuah desa yang misterius. Aira menceritakan pengalamannya selama syuting di Gunung Kidul, Yogyakarta, yang berlangsung selama dua minggu. Ia mengungkapkan tantangan-tantangan berat yang dihadapinya, seperti cuaca yang tak menentu dan kurangnya fasilitas di lokasi syuting.
“Syuting di Gunung Kidul, Yogyakarta hanya 2 minggu. Aira berperan sebagai Ayu, anak kecil di Desa Mati yang dipasung yang kemudian diselamatkan oleh lima mahasiswa yang rekreasi ke air terjun dan tersesat di Desa Mati itu. Sebagai pemeran pembantu utama, tokoh sentar,” urainya.
Meski tengah sibuk dengan dunia akting, Aira tetap memprioritaskan pendidikan. Ia mengungkapkan bahwa meskipun banyak waktu yang dihabiskan di lokasi syuting, ia tetap menyempatkan diri untuk belajar agar tidak tertinggal pelajaran di sekolah. Bahkan, pada tahun 2024, Aira berhasil meraih Juara 8 Olimpiade Sains Nasional (OSN).
“Orang tua hanya support, semua kemauan anaknya. Memang dia bercita-cita sebagai dokter sehingga jika ada waktu luang saat syuting selalu buat belajar, kemarin tahun 2024 berhasil Juara 8 Olimpiade Sains Nasional (OSN). Harapannya meski aktif di akting tapi tetap berprestasi di sekolah,” harapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Aira mengungkapkan bahwa ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Meski dunia akting semakin menggoda, Aira berharap profesi artis hanya menjadi pekerjaan sampingan, dengan tetap berfokus pada pendidikan.
“Kalau nantinya bisa menjadi artis terkenal, saya berharap itu hanya kerja sampingannya karena saya bercita-cita sebagai seorang dokter sehingga meskipun syuting dan dapat izin dari sekolah tapi di lokasi tetap belajar agar tidak ketinggalan,” pungkasnya. [tin/beq]







