Bandung (beritajatim.com) – Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ada satu desa yang jika mendengar namanya, orang mungkin langsung mengernyitkan dahi. Sebab, nama dari desa ini sama sekali tak enak didengar.
Desa itu adalah Doudo, yang terletak di Kecamatan Panceng. Dalam Bahasa Jawa, kata ‘doudo’ punya makna negatif yaitu ‘telanjang’. Memang sangat tidak enak didengar namun begitulah kenyataannya.
Pun, nama Doudo sendiri sudah ada sejak lama. Menurut kisah tutur yang beredar, nama Doudo dipilih akibat fenomena sosial yang terjadi di masa lampau yaitu ‘Podho Udo Kabeh’ yang berarti ‘telanjang semua’. Semua lantaran sulitnya mendapatkan air bersih, terutama untuk kebutuhan minum dan sanitasi.
Doudo pun sempat dikenal sebagai desa yang sangat tertinggal. Namun, perlahan stigma itu terkikis. Doudo pun bertransformasi menjadi Kampung Edukasi Lingkungan Inovatif dan Kreatif (ELINK).
Misi tranformasi itu pertama kali dicetuskan Sutomo. Berangkat dari keprihatinan pada kondisi Desa Doudo yang di matanya sungguh miris. Langkah besar mulai dia lakukan pada 2002, saat Sutomo mendapat amanah menjadi Kepala Desa (Kades) Doudo.

Sutomo pun menyadari sepenuhnya, misi transformasi yang hendak dijalankan tidak mungkin mulus. Meski punya jabatan, bukan berarti mudah mengubah pola pikir masyarakat.
“Untuk mengubah kepercayaan itu kan sangat sulit,” ujar Sutomo.
Namun begitu, niatnya untuk mengubah citra buruk desanya tak juga surut. Sampai dia bertemu seorang ulama kampung. Dari ulama itulah, Sutomo mendapat saran untuk mengubah makna Doudo dari negatif menjadi positif.
“Saya bertemu dengan seorang kiai itu bahwa nama Doudo itu bukan berarti orang telanjang, melainkan Do adalah Adoh (jauh) dan Udo yakni Air, Doudo sama dengan jauh dari air,” tutur Sutomo.
Dia pun membenarkan apa yang disampaikan ulama tersebut. Sejak dulu, Desa Doudo memang kesulitan air bersih. Satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan warga berasal dari Telaga Rena. Dari situlah tercetus ide untuk mengelola air bersih.
“Dari tahun 2003 sampai 2014 akhirnya kami melakukan pengelolaan air bersih dan sanitasi,” terang Tomo sapanya.
Banyak tantangan yang dihadapi Sutomo untuk mewujudkan ide tersebut. Dia harus door-to-door untuk meyakinkan masyarakat agar mau terlibat membangun desa. Langkah itupun dia lakukan dengan pertama kali mendekati para pemuda hingga terketuk dan mau bahu membahu mengubah keadaan desa.
“Kami terus berupaya dan menemukan cara agar air di desa kami ini tidak kekeringan. Alhamdulilah sampai sekarang kebutuhan air tercukupi,” imbuhnya.
Seiring dengan tercapainya program pembangunan infrastruktur dan pencapaian akses air bersih, Pemerintah Desa menginisiasi gerakan masyarakat Pakai Jas Merah (Pengelolaan Air secara Kreatif Aktif Inovatif Jadikan Sampah Menjadi Berkah dengan pembentukan kampung tematik ELINK.
“Kini di desa kami menjadi desa wisata edukasi dengan pembentukan kampung tematik, yang pertama e-Link, kampung 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Kampung Toga, Kampung Sayur, Kampung Sicantik (Siap Jari Jentik Cegah Demam Berdarah Sekarang), dan terakhir kampung Aloevera,” ujar Sutomo.
Sutomo pun mengakui butuh biaya besar untuk membangun desa. Namun, berkat pembinaan oleh PPM PT Pertamina EP Poleng Field dan swadaya, Desa Doudo yang awalnya tertinggal kini menjadi kawasan yang inspiratif.
Senior Manager Relation Regional 4 Subholding Upstream Pertamina, Fitri Erika juga mengungkapkan, perusahaan berkomitmen untuk memberikan dampak yang baik bagi masyarakat, salah satunya melalui program CSR sesuai dengan kebutuhan yang ada di lapangan.
“Bahwa kita melihat mereka (local hero) potensinya sangat luar biasa, sebagai pemimpin bisa menunjukkan kemampuan untuk bisa bersama-sama mengatasi masalah tersebut,” tutur Fitri Erika.
Sehingga, wanita berkacamata ini berharap agar semakin banyak orang-orang yang merancang program-program demi kebutuhan masyarakat dan berdampak baik pula.
“Pada intinya, kita sebagai perusahaan menyambut baik munculnya local hero karena semata-mata kita merancang program ini untuk memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. [ayu/beq]






