Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ini, dunia hiburan Indonesia diramaikan oleh tren tagar #KaburAjaDulu yang viral di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X. Tagar ini mencerminkan keinginan sebagian masyarakat untuk meninggalkan Indonesia dan mencari kehidupan di luar negeri.
Asal Mula dan Penyebab Viral Tagar #KaburAjaDulu
Tagar #KaburAjaDulu berawal dari keluhan warganet mengenai berbagai masalah yang mereka hadapi di Indonesia, termasuk kekecewaan terhadap sistem pemerintahan. Banyak anak muda merasa masa depan mereka tidak menentu terkait kualitas hidup dan peluang berkembang di Indonesia. Pertimbangan tersebut mencakup jaminan kesehatan, politik, sistem sosial, peluang kerja, kualitas pendidikan, kondisi ekonomi, dan kebebasan berekspresi.
Sejumlah influencer terkenal seperti Bima Yudho, Rey Nitra, dan Sylva Cassidy turut meramaikan tren ini dengan memberikan tips untuk “kabur” ke luar negeri, seperti mengikuti program beasiswa atau mencari pekerjaan di negara lain. Negara-negara seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat menjadi tujuan favorit karena menawarkan kesejahteraan dan peluang kerja yang menjanjikan.
Apakah Indonesia Tak Lagi Nyaman?
Pernyataan bahwa Indonesia tidak lagi nyaman bersifat subjektif dan tergantung pada perspektif individu. Beberapa orang mampu berkembang dan menemukan peluang di Indonesia, sementara yang lain memilih mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Namun, tren ini menyoroti permasalahan yang perlu segera diperbaiki, seperti ekonomi, kualitas pendidikan, peluang kerja, dan jaminan kesehatan. Jika masalah-masalah ini dapat diatasi, masyarakat mungkin akan lebih memilih untuk tetap tinggal di tanah air.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) menyatakan bahwa tren #KaburAjaDulu bukan hanya ajakan untuk melarikan diri dari kondisi negara yang kurang baik, tetapi juga sebagai peluang untuk mengembangkan diri. “Jika Anda merasa ingin ‘kabur’, pastikan Anda memiliki pekerjaan di luar negeri. Daripada pergi tanpa tujuan, lebih baik kami bantu mempersiapkan kemampuan Anda agar bisa bekerja di luar negeri,” ujar Menteri P2MI di kompleks parlemen Senayan pada Kamis, 13 Februari 2025.
Anies Baswedan juga menanggapi tren ini dengan mengingatkan pentingnya rasa cinta dan bangga terhadap Indonesia, terutama saat menghadapi tantangan dan kebutuhan akan perubahan. “Cinta itu diuji saat negara sedang menghadapi banyak tantangan. Wajar jika terkadang kita lelah, karena perjuangan tanpa istirahat itu bisa terasa berat,” ujar Anies dalam sebuah video yang diunggah di akun X miliknya. Menurut Anies, rasa lelah dalam memperjuangkan perubahan adalah hal yang wajar. Ia menambahkan bahwa sepanjang sejarah, banyak tokoh bangsa yang terus berjuang meskipun mereka tidak sempat menyaksikan hasilnya secara langsung. [beq]






