Lamongan (beritajatim.com) – Rangkaian perayaan Dies Natalis XIV Komunitas Ginyo Lamongan berlangsung meriah dengan berbagai kegiatan seni dan budaya. Salah satu agenda utama adalah Bedah Antologi Puisi berjudul Setangkai Puisi Menyapa Politisi, karya Mahrus Ali.
Acara ini bertujuan untuk menggali lebih dalam makna dan pesan budaya yang terkandung dalam buku tersebut serta relevansinya dengan situasi sosial saat ini. “Kegiatan kami laksanakan pada Kamis kemarin di Aula Matholi’ul Anwar Simo Karanggeneng Lamongan,” ujar Luqman Hakim, Ketua Komunitas Ginyo Lamongan, Sabtu (18/1/2025).
Acara ini bertepatan dengan hari berdirinya Komunitas Ginyo Lamongan. Dalam kesempatan tersebut, dihadirkan sejumlah narasumber terkemuka, seperti Syarif Hidayatullah, seorang pakar budaya dan penggagas cerita desa; Iskandar NH, aktivis pergerakan yang juga sebagai Korkab TAPM Kabupaten Lamongan; serta Thoriq Hidayatullah, Komisioner KPU Kabupaten Lamongan. Penulis antologi, Mahrus Ali, juga turut hadir dalam diskusi ini.
Diskusi Bedah Antologi Puisi berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta yang terdiri dari anggota komunitas teater pelajar se-Lamongan, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kehadiran Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan menambah apresiasi terhadap acara ini.
“Bedah buku ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat apresiasi kita terhadap nilai-nilai budaya,” tambah Luqman Hakim.
Selain Bedah Antologi Puisi, rangkaian acara Dies Natalis XIV Komunitas Ginyo Lamongan juga mencakup pementasan dua karya teater. Pentas pertama dikemas dalam Ngaji Kentrung V oleh Komunitas Teater Zabarjad dari MA Matholi’ul Anwar Simo Karanggeneng.
Pentas kedua adalah KUH, Karena Ini adalah Soal Hati, yang ditulis oleh Andhi Kephix dari Jombang dan disutradarai oleh Luqman Tohex.
“Melalui pentas teater ini, kami ingin menyampaikan bahwa cinta tidak hanya soal hubungan antara dua insan, tetapi juga tentang bagaimana kita mencintai budaya dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi,” ujar Pakkeng, yang menjadi ide kreatif di balik pementasan ini.
Sebagai puncak acara, dilakukan prosesi potong tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan bagi perjalanan Komunitas Ginyo Lamongan ke depan. Prosesi ini dipimpin oleh Narto Widodo, yang secara simbolis membagikan potongan pertama kepada Ketua Komunitas Ginyo Lamongan.
“Tradisi potong tumpeng ini adalah wujud syukur kami atas perjalanan panjang yang telah dilalui oleh Komunitas Ginyo Lamongan. Semoga dengan kebersamaan, kita dapat terus melestarikan seni dan budaya,” kata Luqman Hakim dalam sambutannya.
Rangkaian acara Dies Natalis XIV ini menjadi bukti komitmen Komunitas Ginyo Lamongan dalam memperkuat literasi, seni, dan budaya di tengah masyarakat. [suf]






