Ada anomali di tubuh Persebaya Surabaya pada Liga 1 Musim 2024-25. Setiap kali mendominasi permainan dan penguasaan bola, anak-anak asuh Paul Munster tak pernah meraih hasil memuaskan.
Saat melawan PSS Sleman di Stadion Manahan Solo, Sabtu (11/1/2025), data situs resmi Persebaya mencatat, Bajul Iko menguasai bola 59 persen. Bahkan akurasi operan para pemain sangat baik (83 persen). Bruno Moreira dan kawan-kawan memberondong gawang PSS 18 kali. Bandingkan PSS yang hanya melesatkan delapan kali tembakan ke gawang Ernando Ari.
Hasilnya: PSS mengalahkan Persebaya 3-1 (3-0) di hadapan 6.458 penonton.
Hal serupa juga terjadi saat Persebaya bertandang ke Stadion I Wayan Dipta menghadapi Bali United. Pasukan Paul Munster berhasil menguasai 53 persen permainan. Namun mereka takluk 0-2.
Saat menghadapi Persib Bandung di Jalak Harupat, Persebaya berbagi penguasaan bola 50 persen. Namun Persib justru yang memetik tiga angka dengan kemenangan 2-0.
Persebaya juga gagal mencetak gol dan ditahan 0-0 oleh tuan rumah Semen Padang, kendati berbagi penguasaan bola 50 persen.
Penguasaan bola paling dahsyat tentu saja saat menjamu PSM Makassar di Gelora Bung Tomo, 23 Oktober 2024. Menguasai 71 persen pertandingan bukan berarti Persebaya menang mudah. Hasil akhir 1-1. Bahkan PSM bisa mencetak gol kedua yang dianulir VAR.
Uniknya, Persebaya justru memenangi mayoritas pertandingan tanpa harus dominan dalam penguasaan bola. Ketika mengalahkan Madura United 2-1, Persebaya hanya menguasai 43 persen pertandingan.
Begitu juga saat mengalahkan Persik Kediri 4-1. Persebaya hanya menguasai 32 persen bola, kendati berstatus ruan rumah. Sebelumnya, Persebaya hanya menguasai 28 persen bola, namun berhasil mengalahkan Arema 3-2 dalam sebuah pertandingan yang dramatis.
Mengapa Persebaya tidak mendapatkan hasil bagus justru ketika menguasai pertandingan? Jawabannya sebenarnya bisa dilihat pada pertandingan melawan PSS. Transisi Persebaya dari menyerang ke bertahan yang tidak terlalu bagus.
Gol Gustavo Tocantins pada menit 4 menunjukkan ketidaksiapan barisan pertahanan Persebaya menghadapi tekanan cepat melalui umpan panjang di sisi sayap. Setelah mencetak gol kedua melalui kepala Cleberson pada menit 17, PSS memanfaatkan umpan panjang dari kiper Alan begitu Persebaya kehilangan momentum serangan. Hanya butuh empat operan sebelum Nicolao Cardoso mencetak gol pada menit 45+2.
Apakah ini berarti Persebaya sebaiknya bermain pragmatis dan bertahan dengan mengandalkan serangan balik? Tidak begitu juga. Sekali lagi Persebaya harus lebih klinis dalam penyelesaian akhir. Dan kita boleh berharap kali ini Dejan Tumbas yang baru saja diimpor dari Serbia bisa menjawab kerinduan terhadap striker yang tajam.
Aksi Tumbas terlihat menjanjikan saat diturunkan pada babak kedua menggantikan Kasim Botan. Golnya pada menit 49 dengan tubuh memutar bisa menjadi gol debut terindah pemain asing di Indonesia. Sayang wasit Gedion Dapaherang menganulirnya.
Tumbas pula yang menjadi biang hadiah penalti bagi Persebaya. Bruno berhasil memanfaatkan penalti itu untuk mempertipis kedudukan 1-3 pada menit 59.
Dengan usia yang baru 25 tahun, kita berharap Tumbas akan menjawab anomali Persebaya. Tim ini tak bisa lagi bergantung pada serangan balik cepat yang diawali dari umpan-umpan panjang. Kehadiran Dejan Tumbas semoga bisa menumpas tiga angka di setiap pertandingan. [wir]






