Surabaya (beritajatim.com) – Seperti perusahaan kebanyakan, bisnis media digital juga menawarkan pola yang unik. Gagasan ini bahkan berlaku di penentuan strategi produk, hingga perilaku bisnis. Saking uniknya, strategi yang sukses diterapkan di media satu belum tentu bisa diterapkan di media lain.
Hal inilah yang disampaikan Hendro D. Laksono, editor dan penanggung jawab IT beritajatim.com, saat menjadi guest lecturer di Prodi Magister Ilmu Komunikasi (S2) Universitas Dr. Soetomo Surabaya (Unitomo), Sabtu (21/12/2024).
“Untuk menjawab tantangan di dunia media digital, setiap perusahaan akan menyiapkan strategi khusus,” tegasnya. Strategi yang dimaksud meliputi penguatan produksi, teknologi, marketing and promotions, dan sumber daya manusia (SDM).
Di banyak perusahaan, lanjut dia, SDM tidak dimaknai sebagai human resources. Tetapi human capital. Dijelaskan, jika perusahaan masih berkutat di pemahaman human resources, maka perspektif yang digunakan adalah employees as a resource, sementara human capital melihat employees as an asset.
Bicara penguatan manajemen media digital, Hendro mengingatkan pentingnya konsistensi dalam merealisasikan target. Seperti produksi karya jurnalistik yang berkualitas, profitabilitas berkelanjutan, dukungan ekosistem, dan manfaat bagi pembaca.
“Tentu target-target ini saling berhubungan. Tentu juga, target ini bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan bahkan ditambah atau dikurangi. Tetapi saat ini jadi kesepakatan bersama, maka laju bisnis media akan tegas tanpa berbelok,” jelas alumnus Stikosa AWS ini.
Tren Media Digital
Di sepanjang pengamatannya, Hendro melihat ada hal-hal khusus yang wajib diantisipasi. Di antaranya perkembangan teknologi artificial intelligence dalam newsroom media digital. Karena sejak 2023, lanjutnya, teknologi AI semakin dekat dengan aktivitas produksi konten.
AI atau kecerdasan buatan sebetulnya sudah lekat dengan dunia jurnalistik media online sejak 2014, puluhan tahun setelah AI Boom tahun 1980-1987. Saat itu, terobosan deep learning dan expert systems sudah mampu menyulap komputer yang berpikir dan membuat jawaban sendiri.
“Padahal AI sudah dikenal sejak 1956, saat ada konferensi pertama tentang AI, yang dikenal sebagai Dartmouth Conference. Momen ini jadi tonggak perkembangan AI sebagai bidang ilmu yang mandiri dan diminati, meski dalam jumlah terbatas,” jelas Hendro.
Selain AI, media digital juga berhadapan dengan isu lain seperti lahirnya platform baru yang lebih interaktif. Platform berita ini mengajak pengguna lebih dekat dengan peristiwa, sehingga untuk mengonsumsi harus menggunakan teknologi Virtual Reality.
Beberapa platform berita yang menggunakan VR di antaranya VR News, aplikasi di Google Play, lalu ABC News VR dan Realovirtual, platform berita VR berbahasa Spanyol.
“Tahun 2005, teknologi ini pernah dipamerkan dalam sebuah eksebisi di Singapura. Tapi alat yang digunakan kelewat mahal, sehingga respons hanya sebatas kekaguman, bukan ramai-ramai belanja,” lanjut Hendro lagi.
Tren lain yang dihadapi industri media digital, tambahnya, adalah isu privacy. Kata Hendro, menghormati privasi digital berarti menghargai hak untuk mengendalikan dan melindungi informasi pribadi saat berinternet.
“Privasi digital memastikan bahwa pengguna dapat mengetahui, memutuskan, dan mengendalikan penanganan data pribadi mereka,” jelas Hendro.
Di sisi lain, banyak media digital membutuhkan data pengguna untuk kepentingan riset dan marketing. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah cookies, file kecil yang tersimpan di komputer atau gadget pengguna, untuk menyimpan informasi dan preferensi pengguna saat mengunjungi situs web atau aplikasi.
Isu lain yang berpeluang menjadi tren sekaligus tantangan media digital adalah minat baca, dominasi media sosial, iklan digital, dan ekosistem digital yang makin dinamis.
“Setiap media digital akan terus berlomba menjadi yang terbaik. Tapi saat itu mereka paham, bahwa capaian menjadi yang terbaik itu hanya untuk hari ini. Besok, apa pun bisa terjadi,” tegasnya.
Prodi Magister Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya terus berupaya mendekatkan perkuliahan dengan dunia nyata. Hadirnya nara sumber dari beritajatim.com merupakan langkah untuk mendekatkan perkuliahan dengan tantangan dunia nyata.
“Mata kuliah Digital Marketing pada semester ini memang beberapa kali mendatangkan praktisi sebagai guest lecturer pada perkuliahannya,” ungkap Yuli Zulaikha, pengampu mata kuliah tersebut. Komitmen ini, lanjutnya, supaya tidak ada jarak antara dunia industri dan dunia pendidikan di kampus.
Sebelum Hendro, Prodi Magister Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya juga pernah menghadirkan guest lecturer dari kalangan praktisi. Di antaranya Dedy Kurniawan dan One Media Hapinesa dari JetCommerce, agensi marketing di Jakarta.
“Komunikasi bergerak dinamis. Setiap masa ada perkembangan, dan tantangan-tantangan baru. Karena alasan ini kami melibatkan dosen tamu, orang-orang yang memiliki pengalaman ekstra, untuk berbagi informasi nyata yang diperoleh dari realitas di lapangan,” tutup Yuli. [ian]






