Jombang (beritajatim.com) – Pagi merangkak ke arah siang. Jarum jam menunjukkan angka sembilan. Awan tebal sudah memayungi Dusun Beluk Desa Jombok Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang Jawa Timur, Sabtu (14/12/2024).
Ini adalah sebuah ancaman. Karena jika hujan deras, banjir yang menggenangi dusun tersebut debitnya akan naik lagi. Padahal pada Sabtu ini banjir sudah berumur seminggu, lebih tepatnya delapan hari. Banjir yang menerjang kawasan permukiman tersebut benar-benar bernapas panjang. Dari Sabtu, ketemu Sabtu lagi.
Dalam situasi mendung itu, Sarminto (59), sudah beraktivitas di rumahnya. Dia membersihkan ruangan bagian samping. Bekas lumpur yang menempel di tembok digosok-gosok menggunakan kain. Meja kursi di ruang tamu juga dikeluarkan. Tempat duduk tersebut ia taruh di teras.
Celana dan baju basah tertumpuk di kursi sofa. Sarminto tidak sendiri. Di rumah itu dia ditemani sang istri, Etty Kartiningsih (56), serta dua anaknya yang sudah remaja, Rizky Yusuf F dan M Yasin Firmansyah.
Etty dan dua anakknya di ruang tengah. Mereka tidak kalah sibuk. Berkali-kali mendorong keluar air yang menggenang di ruangan. Tentu menggunakan peralatan pel. Suasana rumah masih acak-acakan. Air masih menggenang setinggi mata kaki. Sedangkan di jalan depan rumah, air setinggi betis.
Di ruang tengah nampak berkarung-karung gabah hasil panen menumpuk. Namun kondisinya basah karena terendam banjir. “Ini Nyicil bersih-bersih mumpung banjir agak surut. Kami tiga hari tinggal di pengungsian,” kata Sarminto sembari membersihkan tembok berlumpur sisa banjir.
Sarminto mengatakan, pada Sabtu pagi, Dusun Beluk sudah menggeliat. Padahal sebelumnya, dusun ini tak ubahnya dengan kampung mati. Listrik padam. Seluruh warganya mengungsi. Walhasil, Jumat (13/12/2024) malam air perlahan surut.
Air di jalan desa juga sudah pergi. Sehingga jalanan bisa dilewati kendaraan. Namun situasi ini hanya Dusun Beluk Kidul. Sedangkan Dusun Beluk bagian tengah hingga sisi timur belum bisa dilewati. Genangan air masih setinggi lutut.

Sabtu pagi warga Dusun Beluk Kidul bersih-bersih rumah. Namun aktivitas itu tidak berlangsung lama, karena awan tebal yang memayungi dusun tersebut sejak pagi jatuh dari gendongan langit. Air hujan seperti ditumpahkan. Deras sekali. Suara rintiknya ‘mencakar-cakar’ atap rumah. Berisik.
Hujan pagi itu membuat hati Sarminto kembali gundah. Harapan agar banjir segera surut seakan sirna. Sarminto menyudahi aksinya bersih-bersih rumah. Dia menyusul istrinya yang lebih dulu duduk di teras rumah sembari menyantap nasi bungkus jatah dari dapur umum.
Sarminto tak ikut makan. Dia hanya membakar rokok yang terjepit di tangannya. Mengisapnya dalam-dalam sembari menyaksikan hujan deras yang menyiram bumi. Begitu juga dengan dua anak Sarminto, ikut bergerombol di teras rumah.
Sarmito mengatakan bahwa banjir yang menerjang desana tahun ini adalah terparah. Banjir terakhir pada 2020. Itupun hanya menerjang Dusun Beluk bagian barat dan timur. Sedangkan Dusun Beluk Kidul masih aman.
Namun banjir yang terjadi mulai Sabtu (7/12/2024) lebih parah. Seluruh Dusun Beluk terendam. Air bah mengusir warga dari tempat tinggalnya. Ada yang mengungsi ke balai desa, ada pula yang pergi ke tempat saudara.
“Kalau mengungsi ke Balai Desa Jombok terlalu jauh. Saya sekeluarga mengungsi di rumah saudara. Di dusun sebelah. Mulai Sabtu pagi tadi bersih-bersih rumah, ternyata hujan deras turun lagi,” kata Sarminto.
Mengapa Banjir Berlangsung Lama?

Hujan belum reda ketika Plt. Kepala Pelaksana BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jombang, Wiku F Diaz, sibuk di depan Balai Desa Jombok. Dia bersiap diri untuk menyambut Mensos (Menteri Sosial) RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang hendak meninjau banjir, Sabtu (14/12/2024) siang.
Wiku mengenakan mantel berwarna oranye bertuliskan BPBD. Dia mengatakan bahwa ketinggian air mulai berkurang dibanding hari-hari sebelumnya. Debit air mulai turun dan surut antara 15-20 sentimeter. Dia berharap tren tersebut terus berlangsung. Sehingga banjir segera pergi.
Wiku lalu mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan surutnya banjir di Dusun Beluk berjalan seperti siput. Lambat dan lama. Penyebab pertama adalah tingginya curah hujan yang turun selama beberapa hari terakhir di wilayah Kabupaten Jombang.
Nah, tingginya curah hujan dengan intensitas lama tersebut diperparah dengan kondisi geografis Desa Jombok dan Desa Blimbing, yang terletak di hilir dari arus sungai menuju Sungai Brantas. Ketika hujan deras, Afvour Watudakon yang melintasi dusun tersebut meluap.
Air memasuki jalan desa, lalu menyergap ke rumah-rumah warga. Semakin lama, air semakin tinggi hingga seukuran leher orang dewasa. Menurut Wiku, adanya penyumbatan aliran sungai di pintu air atau Dam Sipon menuju Sungai Brantas turut memperparah situasi.
Penyumbatan ini disebabkan oleh keberadaan sampah, tanaman eceng gondok, kangkung, serta sedimentasi di depan pintu air Sipon. “Kami bersama Pemkab Jombang telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Perum Jasa Tirta, dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Timur untuk mengatasi banjir ini,” kata Wiku.
Berbagai upaya lain juga dilakukan. Di antaranya, melakukan penyedotan air yang dialirkan ke Sungai Brantas dan pengerukan endapan yang menghambat laju air di Dam Sipon. Namun demikian, turunnya debit banjir Dusun Beluk bergerak seperti siput. Hingga hari kedelapan hanya turun antara 25 sampai 20 sentimeter.
Ratusan Warga Terdampak

Puluhan korban banjir berkumpul di ruang pertemuan Balai Desa Jombok Kecamatan Kesamben. Ada yang tiduran di atas busa warna oranye. Ada yang bercengkrama dengan tetangga. Ada pula yang asyik bermain gawai.
Fitri Anggraini alias Anggi (35) buru-buru membuka nasi bungkus ketika anaknya yang masih berumur 2,5 tahun merengek. Anggi mengguyurkan sayur lodeh ke atas nasi putih yang baru saja dibukanya. Nasi itu ditemani lauk sebutir telur rebus dan ikan pindang.
Anggi menyuapi si kecil yang merupakan anak ketiganya. Sebungkus nasi itu tidak habis disantap bocah laki-laki tersebut. Anggi Kembali membungkusnya. “Saya sudah empat hari tinggal di pengungsian. Karena rumah tergenang banjir,” kata istri dari Indra Amanu (36) ini.
Anggi mengungsi bersama suami dan tiga anaknya. Namun jika siang, sang suami Indra Amanu, pulang ke rumah. Bersama warga laki-laki lainnya mereka berjaga di gerbang desa. Hal itu untuk mengantisipasi orang yang hendak berbuat jahat ketika dusun sepi ditinggal mengungsi.
Anggi adalah satu dari 63 warga Dusun Beluk yang mengungsi di Balai Desa Jombok. Selain itu, ada juga warga yang mengungsi di Balai Dusun Plosorejo Desa Jombok, serta di Balai Desa Blimbing. Tiga tempat pengungsian tersebut difasilitasi oleh BPBD Jombang.
Kepala Dusun (Kasun) Beluk Sistyo Budianto mengatakan bahwa banjir tersebut berasal dari luapan Afvour Watudakon. Banjir yang menerjang Dusun Beluk sudah memasuki hari kedelapan. Seiring dengan itu, surutnya banjir berlangsung lambat.
Kasun menyebut di Dusun Beluk terdapat 334 KK (kepala keluarga). Sedangkan jumlah warga sekitar 900 orang lebih. Seluruh warga sudah mengungasi. Lokasinya berbeda-beda. Ada yang ke rumah saudaranya, di masjid, musala, pos kamling, serta balai desa.
“Bukan hanya itu, banjir juga merendam 85 hektar sawah di Dusun Beluk. Beruntung, lahan persawahan tersebut belum ditanami padi oleh warga,” kata Antok, panggilan akrab Sistyo Budianto, sembari menunjukkan area persawahan yang berubah seperti lautan.
Sedangkan Kepala Desa (Kades) Blimbing Muji Alipah menjelaskan bahwa Dusun Kedondong berdekatan dengan Dusun Beluk. Dusun Kedondong juga terdampak banjir. Ada sekitar 350 warga yang tinggal di dusun tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 125 orang mengungsi di balai desa. Sedangkan warga lain ada yang mengungsi ke rumah saudaranya. Sebanyak 125 pengungsi di balai desa itu setiap pagi dicek kesehatannya oleh petugas medis Puskesmas Blimbing.
“Alhamdulillah, kebutuhan dasar mereka tercukupi semua. Mulai makan, minum, MCK (mandi cuci kakus), hingga kebutuhan air bersih. Memang ada yang mulai terserang penyakit gatal-gatal dan flu. Walhasil, sudah ditangani oleh petugas medis dari Puskesmas Blimbing,” jelas Muji.
Sabtu (14/12/2024) siang hujan sempat reda. Dari deras menjadi gerimis, lalu berhenti. Perasaan warga Dusun Beluk girang bukan kepalang. Namun beranjak sore, awan tebal kembali memayungi Dusun Beluk.
Gerimis mulai jatuh dari gendongan langit. Setiap rintiknya membentuk lingkaran-lingkaran di atas genangan air yang belum sepenuhnya surut. Hujan yang diawali gerimis ini membuat risau warga Dusun Beluk. Mereka khawatir, banjir di Jombok Kabupaten Jombang napasnya makin panjang. [suf]






