Bojonegoro (beritajatim.com) – Kekuatan APBD Bojonegoro yang tembus hingga Rp7,9 triliun masih meninggalkan daerah terpencil untuk merasakan pembangunan. Buktinya di Dusun Ngronan Desa Bobol Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro masih ada daerah yang terisolir.
Dusun terisolir itu berada di ujung selatan wilayah Kabupaten Bojonegoro yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Warga di dusun Ngronan harus menyeberangi sungai saat hendak ke Dusun Njoso Desa Miyono Kecamatan Sekar. Lantaran tidak adanya jembatan penyeberangan.
Kepala Desa Bobol Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro, Saimo mengatakan, Dusun Ngronan sedikitnya dihuni 272 kepala keluarga (KK) di tujuh RT. Dari jumlah itu ada warga di dua RT yang terisolir. Terutama saat musim penghujan. Saat musim hujan debit air sungai yang dijadikan akses jalan tinggi.
“Akses penyeberangan sungai itu jadi jalan satu-satunya warga Ngronan Desa Bobol jika mau ke Dusun Njoso Desa Miyono,” ujar Saimo, Sabtu (14/12/2024).
Menurut Saimo, pemerintah desa sebelumnya telah merencanakan pembangunan jembatan penyeberangan menggunakan anggaran Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) 2024. Namun gagal terealisasi karena belum cair. Ia mengungkap, pembangunan jembatan itu kembali direncanakan tahun 2025.
“Sudah direncakan akan dibangun jembatan penghubung Desa Miyono – Bobol mengunakan dana BKDD 2024, tapi tidak cair. Rencana tahun depan (2025) baru bisa realisasikan dan dibangun jembatan,” ujar Saimo.
Belum terealisasikannya pembangunan jembatan itu membuat warga terpaksa harus menyeberangi sungai. Belakangan video yang menunjukkan seorang sedang menggendong anaknya untuk menyeberangi sungai yang sedang meluap viral di media sosial.
Mereka menyeberangkan anaknya saat berangkat dan pulang sekolah. Debit sungai saat itu terlihat setinggi paha orang dewasa. Air yang keruh berwarna kecokelatan terlihat mengalir deras.
“Akses ke sekolah hanya bisa dijangkau dengan menyeberangi sungai. Jadi jembatan ini sangat penting. Kalau ada jembatan anak-anak sekolah tidak perlu bersusah payah menyeberang sungai,” jelasnya.
Bahkan tidak hanya anak sekolah, menurut Saimo, pernah saat musim hujan ada warganya yang meninggal dunia. Untuk ke pemakaman umum harus menyeberang sungai. Sehingga warga terpaksa membuat getekan atau perahu dari pohon pisang untuk menyeberangkan jenazah. “Karena pemakaman berada di seberang, jadi mau gak mau hanya dengan cara itu jenazah warga bisa sampai ke lokasi pemakaman,” imbuhnya. [lus/kun]






