Cirebon (beritajatim.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang pemberdayaan perekonomian, Dr. KH. Eman Suryaman, mengingatkan umat Muslim di Indonesia untuk menjalankan gerakan boikot dengan bijak dan tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa boikot jangan sampai menyasar perusahaan publik lokal yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh individu atau perusahaan Indonesia.
“Di media sosial belakangan ini, sejumlah pihak mengkampanyekan boikot produk dari perusahaan go public hanya karena sebagian kecil sahamnya dimiliki oleh investor asing tertentu. Yang seperti ini tidak tepat,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk “Bulan Palestina & Sosialisasi Fatwa MUI” di Cirebon, ditulis Kamis (5/12/2024).
Menurut Eman, umat Islam perlu memprioritaskan produk perusahaan publik lokal karena langkah tersebut dapat memperkuat perekonomian nasional. “Perusahaan go public memiliki manfaat besar bagi masyarakat, seperti menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Itjima Ulama MUI telah memberikan panduan terkait kriteria produk dalam negeri yang perlu diprioritaskan, yaitu perusahaan yang menggunakan bahan baku lokal, tidak memiliki mayoritas saham asing, mengutamakan tenaga kerja nasional pada level manajerial puncak.
Sementara itu, umat Islam tetap didorong untuk memboikot produk multinasional asing yang mendukung Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. “Gerakan boikot ini harus terus dilanjutkan agar memberi efek jera pada Israel dan negara pendukungnya,” tegasnya.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI bidang hukum, Dr. KH. Ikhsan Abdullah, menekankan pentingnya boikot sebagai bentuk nyata dukungan terhadap Palestina. “Kehadiran kita di sini menunjukkan sikap tegas mendukung kemerdekaan Palestina. Caranya? Dengan memboikot produk pro Israel,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Nur Ikhwan Abadi dari Aqsa Working Group mengimbau masyarakat untuk tidak ragu dalam melanjutkan gerakan boikot. “Ulama kita sudah mengeluarkan fatwa, tinggal kita jalankan. Banyak alternatif produk yang bisa dikonsumsi selain produk-produk seperti McDonald’s atau Aqua,” katanya.
Relawan MER-C di Gaza, Farid Zanjabil Al Ayubi, memaparkan data tragis dari Jalur Gaza. Hingga saat ini, lebih dari 46 ribu orang menjadi korban meninggal dunia, dan hampir 120 ribu orang luka-luka.
“Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak, yang mencapai 70 persen. Dari total 2,5 juta penduduk Jalur Gaza, hampir semuanya mengungsi,” ungkapnya.
Gerakan boikot dinilai sebagai salah satu cara paling efektif untuk menekan Israel dan menunjukkan solidaritas terhadap bangsa Palestina. [beq]






