Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) mengukuhkan Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn., sebagai Guru Besar bidang Kajian Seni Tari. Ia menjadi guru besar pertama di bidang ini yang dimiliki oleh kampus tersebut.
Penelitian Prof. Robby berfokus pada teori Membaca Struktur-Simbolik: Studi Bentuk, Relasi, dan Imajinasi dalam Memahami Makna Tari. Ia telah memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan seni tari di Indonesia.
Seni tari dikenal sebagai ekspresi nonverbal yang kaya akan makna dan simbolisme. Teori yang dikembangkan Prof. Robby bertujuan untuk memahami makna mendalam yang terkandung dalam gerakan, kostum, dan formasi penari.
Selama lebih dari dua dekade, ia telah menerapkan teori ini pada berbagai bentuk seni tari tradisional, seperti Wayang Topeng Malang, Tari Ramayana di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, serta seni Zapin Melayu.
Akar dari teori ini bersumber dari pemahaman simbolik yang pertama kali diperkenalkan oleh Plato, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh filsuf seperti Ernst Cassirer. Cassirer memandang simbol sebagai cara manusia memahami seni dan budaya secara mendalam.
Dalam seni tari, simbol ini tersusun secara spasial dan temporal. Simbol kemudian menciptakan struktur yang dapat diinterpretasikan melalui elemen-elemen tertentu.
“Tentang membaca struktur simbolik, bentuk, dan imajinasi konotatif seni tari. Lihat tampilan tari, kita senang, tapi kita tidak paham simbolnya, yang biasa orang tangkap adalah kenikmatan visual,” ungkap Prof. Robby saat jumpa pers, Rabu (4/12/2024).
Prof. Robby memformulasikan teori Membaca Struktur-Simbolik dengan tiga elemen utama. Pertama, bentuk. Elemen ini mencakup aspek visual seperti gerakan, kostum, dan tata panggung. Kedua, relasi elemen ini mengacu pada interaksi antara penari, hubungan dengan penonton, dan penggunaan ruang.
Ketiga, Imajinasi konotatif yang berfokus pada makna emosional, kultural, atau spiritual yang diinterpretasikan secara subjektif oleh penonton. “Dengan tiga formulasi, kenal bentuk, tahu relasinya, dan bisa membangun imajinasi konotatif adalah pengetahuan bidang keilmuan, aspek budaya, dan pengalaman artistik,” tambah Guru Besar dari Fakultas Sastra Departemen Seni dan Desain tersebut.
Teori Membaca Struktur-Simbolik membantu mengungkap filosofi hidup, emosi estetik, dan spiritualitas masyarakat pemangku seni tari. Misalnya, dalam tradisi Bali, simbolisme Barong dan Rangda menggambarkan keseimbangan antara kekuatan baik dan jahat, sesuai dengan prinsip Tri Hita Karana.

Pendekatan ini memanfaatkan hermeneutika dan semiotika untuk menganalisis gerakan tari sebagai tanda yang membawa makna tertentu. Pada seni Wayang Topeng Malang, gerakan lambat dan harmonis melambangkan ketenangan serta penghormatan terhadap nilai-nilai luhur.
“Peneliti harus punya tiga aspek itu untuk memahami makna simbolik tari. Simbol-simbol ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi alat refleksi filosofis dan analisis sosial.,” jelas Prof. Robby.
Teori ini tidak hanya menjadi alat analisis akademik, tetapi juga membantu masyarakat memahami seni tari sebagai bahasa universal. Dengan membaca struktur simbolik, masyarakat dapat mengenang sejarah, merayakan nilai-nilai luhur, dan menyampaikan pesan kepada generasi mendatang.
“Bidang kajian yang saya capai dalam seni tari ini sebenarnya berakar sejak kecil, saat saya mulai menyukai tari. Bahkan, saya terperosok lebih dalam dan begitu mencintai seni tari sampai hari ini,” kenang Prof. Robby, menutup pembicaraan.[dan/aje]






