Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah daftar profesor dengan mengukuhkan empat akademisi dari berbagai disiplin ilmu. Upacara pengukuhan akan berlangsung pada Kamis (28/11/2024) di Gedung Samantha Krida. Keempat profesor tersebut berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), serta Fakultas Ilmu Administrasi (FIA).
Prof. Dr. rer. nat. Abdurrouf, S.Si., M.Si., membawah pidato pengukuhan berjudul Pemahaman Interaksi Molekul dan Laser dengan Model AIFT. Ia menjadi profesor aktif ke-209 di UB dan ke-29 di FMIPA, Prof. Abdurrouf mengembangkan model Adiabatic Intense-Field Theory (AIFT) untuk mempelajari interaksi molekul gas dengan medan laser.
Model ini memberikan kontribusi signifikan dalam memahami fenomena seperti ionisasi, disosiasi, hingga pembangkitan sinyal harmonik tinggi (High Harmonic Generation). Prof. Abdurrouf berharap AIFT dapat menjadi landasan untuk pengembangan teori terkait pembangkitan sinyal harmonik tinggi pada molekul gas maupun material lainnya.
“Kami juga mengeksplorasi aplikasi AIFT untuk sistem termal atau yang dipengaruhi medan luar guna memperkuat kemajuan sains dan teknologi di Indonesia,” ungkapanya, pada Selasa (26/11/2024) saat jumpa pers.
Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng., D.Sc., membahas tentang Teknologi Eko-Akuatik melalui Konsep Brawijaya (Biofilm as Regulator of Adsorption-Desorption for Water Pollution, Justifiable Aquatic Yield, and Sustainability) untuk inovasi teknologi Eko-Akuatik.
Prof Andi menjadi profesor aktif ke-212 di UB dan ke-24 di FPIK. Prof. Andi Kurniawan mengangkat inovasi teknologi eko-akuatik berbasis ekologi mikroba perairan. Ia memperkenalkan konsep Brawijaya (Biofilm as Regulator of Adsorption-Desorption for Water Pollution, Justifiable Aquatic Yield, and Sustainability).
“Pendekatan inovatif ini mendukung keberlanjutan ekosistem perairan dan pengelolaan polusi air. Kami berkomitmen untuk menciptakan solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya air dan ekosistem akuakultur,” ujarnya.
Prof. Dr. M.R. Khairul Muluk, S.Sos., M.Si., mengungkapkan tentang Model Desentralisasi Dinamis untuk Era BANI. Ia menjadi profesor aktif ke-215 di UB dan ke-13 di FIA.
Prof. Khairul Muluk menghadirkan solusi sistemik dalam menghadapi tantangan era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Ia mengusulkan model Desentralisasi Dinamis, yang menjaga keseimbangan antara efektivitas pemerintahan pusat dan kemandirian pemerintahan daerah.
Model ini memungkinkan pemerintah daerah tetap kokoh meskipun sistem pusat menghadapi krisis, seperti yang pernah terjadi selama krisis moneter 1998. Namun, keberhasilan model ini membutuhkan pengawasan berbasis promotive control untuk meningkatkan kapasitas daerah secara berkelanjutan.

Sementara itu, Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi., M.T., menyampaikan pidator berjudul FishHab-Spatial Dynamic: Pemetaan Habitat Ikan dengan Pendekatan Spasial-Temporal. Ia sebagai profesor aktif ke-216 di UB dan ke-25 di FPIK, Prof. Abu Bakar Sambah mengembangkan model FishHab-Spatial Dynamic, yang memanfaatkan data spasial-temporal untuk memetakan habitat ikan. Penelitiannya mengungkapkan bahwa faktor oseanografi, seperti suhu permukaan laut dan klorofil-a, memengaruhi distribusi ikan dan produktivitas perairan.
“Fenomena upwelling di Samudra Hindia bagian selatan Bali menjadi indikator kesuburan perairan dan kelimpahan ikan,” jelas Prof. Abu Bakar. Model ini diharapkan dapat mendukung pengelolaan sumber daya laut yang lebih optimal dan berkelanjutan.
Keempat profesor ini membawa kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, mulai dari fisika molekuler hingga pengelolaan ekosistem dan pemerintahan. Universitas Brawijaya terus berkomitmen untuk mencetak akademisi unggul yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa. (dan/but)






