Bondowoso (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso terus mengembangkan sektor pertaniannya dengan memaksimalkan produksi padi dan singkong. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) meningkatkan indeks pertanaman (IP) guna menggenjot produksi beras.
Kepala DPKP Bondowoso, Hendri Widotono, menyebutkan bahwa pada tahun 2024 hingga Agustus, produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 380.131 ton, setara dengan 228.079 ton beras. Untuk mencapai target ini, Pemkab Bondowoso menerapkan IP hingga 4 kali tanam dalam setahun di wilayah dengan ketersediaan air yang cukup.
“Peningkatan IP dilakukan di enam kecamatan, yaitu Wonosari, Tenggarang, Pujer, Tlogosari, Prajekan, dan Grujugan,” ungkap Hendri.
Dengan metode ini, rata-rata produksi GKG di Bondowoso mencapai 5-6 ton per masa tanam. Selain peningkatan IP, Pemkab Bondowoso mendukung petani dengan menyediakan bibit unggul melalui bantuan BLBU padi bersertifikat serta menggunakan teknologi System of Rice Intensification (SRI) untuk meningkatkan hasil panen padi.
Pemkab Bondowoso juga menjalankan Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama dengan memberikan bantuan pestisida untuk mencegah serangan hama yang bisa merusak tanaman lebih dari 30 persen.
Tak hanya padi, produksi singkong di Bondowoso juga mengalami peningkatan. Pada periode Januari hingga Agustus 2024, produksi singkong mencapai 30.730 kg. Sebagai bahan utama untuk tape, singkong banyak dibudidayakan di 17 kecamatan, termasuk Tamanan, Binakal, Wringin, Pakem, dan Tegalampel.
Dengan luas areal baku sawah (LBS) mencapai 35.751 hektar dan lahan tegalan 28 ribu hektar, Pemkab Bondowoso optimis produksi pertanian akan terus meningkat, memenuhi kebutuhan pangan daerah dan menjadi potensi besar bagi perekonomian Bondowoso. [awi/beq]






