Surabaya (beritajatim.com) – Lian (19) tampak duduk di deretan bangku sisi kiri baris pertama Suroboyo Bus. Pandangannya tertuju ke layar ponsel yang tengah dia pegang dengan tangan kanan. Beberapa kali jempolnya bergerak. Menggeser layar ponsel.
Sesekali, dia alihkan pandangan ke luar jendela bus yang terletak di sisi kirinya. Memperhatikan sejenak suasana di luar bus. Terik, dan kering. Lalu kembali menatap layar ponsel
Siang itu, Lian memang sedang dalam perjalanan menggunakan Suroboyo Bus dari Terminal Purabaya. Dia hendak pergi ke Perak, Kota Surabaya. Berkunjung ke rumah saudaranya.
Bepergian menggunakan transportasi publik memang menjadi pilihan Lian. Meski ada pilihan transportasi lain selain kendaraan pribadi. Sebut saja, ojek atau taksi online. Alasan utamanya, soal tarif yang terpaut sangat jauh.
“Sebelumnya saya naik ojek online. Tapi setelah mencoba Suroboyo Bus ini, perbandingan tarifnya cukup jauh. Jadi kemudian saya lebih sering naik Suroboyo Bus,” ujar Lian saat berbincang dengan beritajatim.com.
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya tak lepas dari masalah di sektor transportasi. Banyaknya jumlah kendaraan hilir mudik, tak jarang menimbulkan sejumlah persoalan. Contoh paling nyata, terjadinya kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol. Pengaruhnya tentu pada anggaran yang perlu dikeluarkan oleh warga Surabaya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kehadiran transportasi publik menjadi jawaban atas problem tersebut.
Surabaya, sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, memiliki jaringan transportasi umum yang terus berkembang. Sistem ini tidak hanya menghubungkan berbagai sudut kota, tetapi juga menawarkan banyak keuntungan bagi warga.
Bersisian dengan hiruk pikuk kemacetan kota, para penumpang Suroboyo Bus tengah berpacu dengan waktu menuju lokasi aktivitasnya masing-masing.
Menurut Lian, fasilitas yang ditawarkan oleh transportasi umum ini sangat memadai. Meskipun sesekali ramai, namun selalu ada kursi kosong di setiap pemberhentian.
Ia menaiki Suroboyo Bus menuju pemberhentian terakhir, Perak. Dengan adanya kendaraan ini, terdapat banyak halte sebagai opsi pemberhentian sebelum sampai pada destinasi terakhir.
Durasi naik-turunnya penumpang di setiap bus stop juga cukup cepat, sehingga tidak memakan waktu perjalanan terlalu lama. Efisiensi waktu tersebut dibarengi dengan tarif kendaraan yang terjangkau.
Dengan menaiki Suroboyo Bus, terdapat pengeluaran yang dapat dipangkas. Tarif ojek online yang sebelumnya biasa ia naiki, ialah 10 kali tarif bus ini sekali jalan.
“Cuma dengan memperlihatkan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) ke kondektur, pelajar bisa bayar Rp2.500 saja.” tambah Lian.
Kendati tetap ada selisih waktu dengan menaiki ojek online, bepergian menaiki Suroboyo Bus tetap menjadi opsi yang paling menguntungkan baginya.
“Kalau naik bus ini, Purabaya-Perak bisa ditempuh 45 menit. Sedangkan kalau mengendarai ojek online, cuma perlu waktu 30 menit untuk menempuh rute yang sama. Tapi ya, balik lagi, perbandingan ongkosnya sangat jauh, mending naik Suroboyo Bus.” Jelasnya.
Menjadi bus transportasi publik pertama di Jawa Timur, Suroboyo Bus rilis perdana pada April 2018. Di bawah naungan Dinas Perhubungan, Pemerintah Kota Surabaya luncurkan moda transportasi ini pada periode kepemimpinan walikota Rismaharini.
Pada rilis perdananya, Suroboyo Bus memberikan 3 opsi rute, mulai dari Purabaya-Rajawali, UNESA-ITS, hingga Gunung Anyar-Kenjeran. Sejumlah 22 unit dioperasikan dengan rincian tipe 20 low floor bus dan 2 unit bus tingkat.
Namun, seiring berjalannya waktu, moda transportasi ini memiliki perkembangan dan penyempitan rute.
Rute, Tarif Transportasi, dan Metode Pembayaran
Per Oktober 2024 ini, tercatat ada 2 rute yang dapat diakses warga Surabaya dengan menaiki Suroboyo Bus.
Dua rute yang ditawarkan tersebut adalah Purabaya-Perak dan Suroboyo Bus Tumpuk. Untuk rincian halte yang dilewati, penumpang dapat mengunduh aplikasi GoBis guna melakukan tracking pada unit bus.
Apabila pelajar dan mahasiswa dapat membayar tarif transportasi sejumlah Rp2.500 dengan syarat memperlihatkan kartu pelajar/KTM, maka penumpang umum dipatok harga Rp5.000 sebagai tarif menaiki Suroboyo Bus.
Trans Semanggi, Sarana Alternatif
Untuk beberapa lokasi yang tidak dilewati rute Suroboyo Bus, Trans Semanggi menjadi alternatif transportasi publik lain. Bus satu ini juga memiliki 2 opsi rute. Jalur pertama yaitu melewati jalur Kejawan Putih Tambak-UNESA Lidah Wetan, serta rute kedua adalah melalui Terminal Purabaya-Kenpark.
Serupa dengan Suroboyo Bus, Trans Semanggi juga menggunakan QRIS sebagai satu-satunya metode pembayaran.
Nantinya, kondektur dari pihak Dishub akan memutari para penumpang satu persatu, dengan menyodorkan barcode pembayaran Trans Semanggi. Pembayaran yang sukses akan langsung tercatat melalui aplikasi yang dimiliki oleh pihak Bus.
Meskipun memiliki metode pembayaran dan tampilan fisik serupa dengan Suroboyo Bus, kendaraan satu ini memiliki aplikasi tracking tersendiri, Mitra Darat.
Fitur-fitur yang ada dalam aplikasi ini pun tak jauh berbeda dengan Gobis. Keduanya sama sama menghadirkan pusat bantuan bagi para penumpang. Dengan mengunduh apalikasi ini, masyarakat dapat mengetahui rincian halte yang dilewati unit, hingga estimasi kedatangan.
Sistem Integrasi Intermoda
Sayangnya, kenyamanan yang dirasakan para penumpang belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh warga Surabaya. Dengan perpindahan moda transportasi bus di beberapa rute, mengharuskan warga untuk mengunduh 2 aplikasi sekaligus.
Selain itu, berbeda dengan Suroboyo Bus yang memiliki halte dalam setiap pemberhentian, Trans Semanggi hanya diidentifikasi melalui bus stop sederhana dengan sebuah palang penanda..
Ketika sedang menunggu unit Trans Semanggi di Halte Kaliasin, Salah satu penumpang Trans Semanggi, Yuna, menjelaskan ia memutuskan berjalan kaki sejauh 2 km dari bus stop terakhir menuju lokasi tujuannya. Ini lantaran estimasi kedatangan unit masih cukup lama, dan tidak ada tempat nyaman untuk menunggu.
“Mungkin karena unitnya masih sedikit, ya. Estimasi dari aplikasi waktu itu menyentuh 25 menit, dan tanpa ada halte yang cukup untuk mengurangi rasa panasnya. Jadi saya mutusin, yaudah ayo jalan aja.” tambahnya.
Selain dua transportasi tersebut, ada microbus keluaran tahun 2023 yang juga menarik atensi masyarakat. Apalagi, bagi para lansia. Unit tersebut merupakan transportasi Wira Wiri.
Wira Wiri Suroboyo, Angkutan Feeder
Wira Wiri Suroboyo, angkutan umum berbentuk angkot ini merupakan transportasi publik yang dapat menjangkau rute lebih kecil lagi, hingga masuk ke gang pemukiman.
Ada 8 rute yang dapat diakses melalui aplikasi GoBis, mulai dari FD01 Terminal benowo-Tunjungan, hingga FD08 Tow-UNESA. Terdapat pula salah satu rute baru, FD04 SIER-Kota Lama yang telah beroperasi 10 hari.
Transportasi satu ini juga sangat berdampak bagi masyarakat yang berada di pinggiran. Karena, dapat menjangkau daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.
Misalnya saja, masyarakat yang bertempat tinggal di Manukan Kulon, Ngagel, hingga Sumberejo, dapat mengakses moda transportasi ini melalui bus stop de area sekitar.
Perbedaan dari microbus ini terletak pada metode pembayarannya. Jika pada bus akan ditarik scan, maka Wira-Wiri memberikan struk pembayaran pada penumpang, dan dapat menjadi tiket gratis selama 90 menit kedepan.
Serupa dengan bus, Wira Wiri juga mematok harga Rp2.500 pagi para pelajar yang bepergian. Namun, uniknya, moda transportasi ini bebas bayar bagi para lansia.
Hanya dengan memperlihatkan KTP, helper, sebutan untuk kondektur dari Wira Wiri, akan menandai dan membuat para lansia merasa nyaman. [ema/beq]






