Jombang (beritajatim.com) – Menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2024 yang jatuh pada 22 Oktober 2024, Ponpes (Pondok Pesantren) Al Aqobah 4 Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang menggelar berbagai acara.
Salah satunya adalah pementasan mini drama yang bertema ‘Resolusi Jihad’. Acara berlangsung meriah. Seluruh santri yang jumlahnya ratusan berkumpul di masjid setempat. Sedangkan pemeran drama adalah santri yang duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah).
Rangkaian acara itu sendiri dimulai pada Rabu (16/10/2024). Sesuai rencana terus berlangsung hingga puncak HSN 2024 yang dipungkasi dengan agenda Al-Aqobah Bersholawat dan upacara. Rangkaian HSN tersebut diawali dengan nobar (nonton bareng) film ‘Sang Kiai’.
Santri putri duduk di barisan belakang, sedangkan santri putra di barisan depan. Sebuah layar berukuran sedang berada di hadapan mereka. Lewat layar itulah film yang mengisahkan perjuangan pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari diputar.
Ratusan santri Al-Aqobah menyimak film tersebut. Ketika ada adegan yang kocak, santri generasi Z ini tertawa berderai. Namun sebaliknya, ketika adegan sedih mereka menitikkan air mata. Semisal, ketika tantara Jepang mengobrak-abrik pesantren Tebuireng dan menangkap Kiai Hasyim.
Santri yang menonton film tersebut diliputi kesedihan. Bahkan ketika Kiai Hasyim disiksa dan dijebloskan ke penjara, santri Al-Aqobah menitikkan air mata. Mereka tak tega melihat Sang Kiai disiksa tantara Jepang.
Usai nobar film Sang Kiai dilanjutkan dengan istighasah. Doa bersama ini dipimpin oleh Pengasuh Ponpes Al-Aqobah KH Akhmad Kanzul Fikri atau Gus Fikri. Ratusan santri mengikutinya dengan khusuk.
Setelah istighasah, seluruh santri berdiri. Mereka mengepalkan tangan sembari menyanyikan lagu patriotik karya pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah ‘Ya Ahlal Wathon’. Kemudian dilanjutkan dengan mars Hari Santri.
Drama Resolusi Jihad

Sembari bernyanyi, para santri juga membeber poster yang berisi kebanggaan mereka menjadi santri. Acara yang ditunggu pun tiba. Santri kelas X MA (Madrasah Aliyah) Al-Aqobah mementasakan mini drama berjudul Resolusi Jihad.
Belasan santri ini memainkan peran berbeda. Ada yang berperan sebagai KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah serta KH Bisri Syansuri. Kemudian ada yang berperan sebagai santri Tebuireng, tantara Jepang, serta berperan sebagai utusan Bung Karno.
Terakhir, seorang santri berperan sebagai Bung Tomo. Santri ini mengenakan baju safari putih lengkap dengan peci hitam. Penampilan santri ini memukau hadirin, karena membacakan pidato Bung Tomo dengan berapi-api. Dia membakar semangat arek-arek Suroboyo.
Drama diawali dengan adegan ajudan Bung Karno yang menemui Kiai Hasyim untuk meminta fatwa. Karena tantara Belanda kembali ke Indonesia dengan membonceng sekutu. Kedatangan Belanda berniat kembali menjajah Indonesia.

Pendiri Ponpes Tebuireng ini kemudian mengumpulkan kiai-kiai untuk membahasa fatwa itu. Hingga akhirnya Hoofd Bestuur Nadlatoel Oelama atau sekarang disebut Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad.
Yakni, berperang melawan penjajah itu fardlu ‘ain yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, Iaki-Iaki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak bagi yang berada dalam jarak Iingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.
Nah, dari resolusi jihad itulah akhirnya pecah perang 10 November 1945 di Surabaya. Drama yang dimainkan oleh santri Al-Aqobah ini juga memerankan peristiwa tersebut. Tentu saja, sorak sorai santri lainnya pecah. Mereka memberikan aplaus panjang.
“Latihannya cuma satu hari, langsung pentas. Sangat mendadak. Alhamdulillah, lancer mulai awal hingga akhir,” ujar Ersan Effendi (16), santri Al-Aqobah asal Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri yang berperan sebagai santri Tebuireng ini.
Spirit Resolusi Jihad untuk Pendidikan

Pengasuh Ponpes Al-Aqobah KH Akhmad Kanzul Fikri atau Gus Fikri menjelaskan ada sejumlah agenda dalam memperingati HSN 2024. Di antaranya, nobar film Sang Kiai, istighasah, aneka lomba, pementasan drama, serta puncaknya adalah Al-Aqobah Bersholawat.
Bagi Gus Fikri, peringatan HSN sangat penting. Sehingga memahami resolusi jihad dan peran kiai dalam mempertahankan kemerdekaa Indonesia. Nah, semangat para kiai dan santri dalam membela kemerdekaan waktu itu bisa dilanjutkan oleh santri hari ini dalam konteks pendidikan.
“Harapan kami, dengan HSN ini para santri semakin semangat dalam mempelajari banyak hal di pesantren. Sehingga ketika Kembali ke masyarakat, mereka menjadi manusia bermanfaat. Mereka bisa memberikan dampak positif bagi lingkungannya,” ujar Gus Fikri. [suf]






