Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) 2024 adalah perhelatan kali keempat demokrasi elektoral di provinsi berpenduduk hampir 40 juta jiwa ini. Ada tiga pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) yang berlaga di pilgub tahun ini: Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Khakim, Tri Rismaharini-Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans).
Melihat rekam jejak keenam figur dari tiga pasangan cagub dan cawagub itu, Khofifah telah terjun empat kali di ajang Pilgub Jatim: Tahun 2008, 2013, 2018, dan 2024. Dari aspek pasangan cagub dan cawagub, duet Khofifah-Emil terhitung dua kali mengikuti kontestasi politik ini.
Survei lembaga Poltracking menunjukkan duet Khofifah-Emil mengantongi dukungan 57,3 persen, Luluk-Lukman dengan 2,2 persen, dan Risma-Gus Hans dengan 22,7 persen. Sebanyak 17,8 persen respon menjawab tidak tahu maupun tidak menjawab.
Dari survei Poltracking itu juga terungkap bahwa dari lima subkultur yang ada di Jatim, semuanya dimenangkan Khofifah-Emil. Tengok saja di subkultur Arek, Khofifah-Emil memperoleh dukungan 47,2 persen, Risma-Gus Hans dengan 33,7 persen, dan Luluk-Lukman Khakim dengan 0,3 persen. Sebanyak 18,8 persen menjawab tidak tahu.
Selanjutnya, di subkultur Mataraman, Khofifah-Emil punya elektabilitas 63,4 persen, Risma-Gus Hans dengan 26,4 persen, Luluk-Lukman dengan 2,9 persen. Sisanya sebanyak 7,3 persen responden menjawab tidak tahu.
Kemudian di subkultur Tapal Kuda, dukungan untuk Khofifah-Emil sebesar 63,9 persen, Risma-Gus Hans dengan 9,7 persen, Luluk-Lukman Khakim dengan 1,8 persen. Selebihnya sebanyak 24,6 persen responden menjawab tidak tahu.
Poin berikutnya di subkultur Pantura, besaran dukungan politik untuk Khofifah-Emil yaitu 51,0 persen, Risma-Gus Hans dengan 18,3 persen, Luluk dan Lukman Khakim dengan 3,3 persen. Sementara 27,4 persen responden menjawab tidak tahu.
Terakhir di subkultur Madura Kepulauan, dukungan kepada Khofifah dan Emil Dardak 69,7 persen, Risma-Gus Hans dengan 10,6 persen, Luluk-Lukman dengan 9,1 persen, dan sebanyak 10,6 persen responden menjawab tidak tahu.
Data hasil Pilgub Jatim 2018 merupakan rujukan faktual dan presisi terakhir terkait dukungan elektoral politik Khofifah, tentu dengan pasangannya, Emil Dardak, yang bisa kita jadikan pedoman untuk membangun konstruksi argumentasi tren dukungan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2024.
Data Pilgub Jatim 2018 menunjukkan pasangan ini meraih dukungan 10.465.218 suara dan memenangkan pertarungan di 27 dari 38 kabupaten dan kota di seluruh Jatim.
Di kawasan lima subkultur yang ada di Jatim, duet Khofifah-Emil menang atas kompetitornya Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno. Di subkultur Arek meliputi Kabupaten Jombang, Malang, Malang Kota, Kota Batu, Mojokerto, Mojokerto Kota, Sidoarjo, dan Kota Surabaya, Khofifah-Emil Dardak merebut 2.587.060 suara.
Sedangkan di subkultur Mataraman yang terdiri dari Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kediri, Kota Kediri, Madiun, Kota Madiun, Tulungagung, Trenggalek, Ngawi, Nganjuk, Magetan, Ponorogo, dan Pacitan, duet Khofifah-Emil Dardak mengantongi dukungan 2.879.248 suara.
Untuk subkultur Pantura yang meliputi Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, Khofifah-Emil saat Pilgub Jatim 2018 merebut 1.380.090 suara.
Bagaimana dengan subkultur Tapal Kuda yang meliputi Kabupaten Pasuruan, Pasuruan Kota, Probolinggo, Probolinggo Kota, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, dan Lumajang? Di kawasan ini, Khofifah-Emil mengantongi dukungan sebanyak 2.427.358 suara.
Di subkultur Madura Kepulauan, terdiri dari Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, duet Khofifah dan Emil Dardak meraup dukungan 1.192.257 suara.
Sebagai aktor politik yang paling lama dan terbanyak mengikuti kontestasi politik Pilgub Jatim, otomatis jejak data dukungan politik kepada Khofifah yang paling banyak. Sehingga statistik politik ini jadi referensi penting untuk membaca tren ke depan, khususnya peluang Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2024.
Selain data Pilgub Jatim 2018, kita bisa melihat data hasil Pilgub Jatim 2013. Saat itu, ada empat pasangan kandidat yang tampil di panggung: Soekarwo- Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (KarSa), Khofifah-Herman S Sumawiredja (Berkah), Bambang DH-Said Abdullah (Jempol), serta Eggi Sudjana-M Sihat (paslon independen).

Pilgub Jatim 2013 dimenangkan pasangan KarSa dengan dukungan 8.187.862 suara atau 47,24 persen. Posisi kedua ditempati Berkah dengan 6.525.531 suara atau 37,65 persen, posisi ketiga Jempol dengan 2.198.921 suara atau 12,69 persen, dan terakhir oleh Eggi Sudjana-M Sihat dengan 419.760 suara atau 2,42 persen.
Kendati hanya menempati posisi kedua di Pilgub Jatim 2013, Khofifah yang berpasangan dengan mantan Kapolda Jatim, Irjen Pol (Purn.) Herman S Sumawiredja menang di 11 dari 38 kabupaten dan kota di Jatim.
Ke-11 daerah itu adalah: Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Tuban, Lamongan, Probolinggo, Jember, Banyuwangi, Sumenep, Pamekasan, dan Blitar. Sebanyak 27 kabupaten dan kota lainnya dimenangkan duet KarSa.
Tak ada kabupaten dan kota yang dimenangkan duet Bambang DH-Said Abdullah maupun Eggi Sudjana-M Sihat, termasuk di Kota Surabaya di mana Bambang DH pernah menjabat dua kali sebagai Wali Kota.
Data dan fakta Pilgub Jatim 2008 berlangsung tiga putaran. Putaran pertama dengan lima pasangan cagub dan cawagub, putaran kedua mempertemukan duet Pakde Karwo-Gus Ipul (KarSa) versus Khofifah-Brigjen Purn Mudjiono (Kaji). Putaran ketiga berupa pemungutan dan penghitungan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan Sampang serta hanya penghitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan.
Pilgub 2008 akhirnya dimenangkan KarSa dan Jatim menjadi battle of field yang keras antara KarSa versus Kaji. Sejumlah poin penting Pilgub Jatim 2008, khususnya merujuk data hasil putaran kedua, dalam relasinya dengan Khofifah, antara lain: Duet Kaji memenangkan pertarungan di 16 kabupaten dan kota di Jatim.
Rincian 16 kabupaten dan kota itu adalah: Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Gresik, Jember, Kediri, Kota Batu, Kota Malang, Kota Surabaya, Lamongan, Malang, Mojokerto, Sidoarjo, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung. Sedangkan satu daerah, yakni Kabupaten Nganjuk, data putaran kedua Pilgub Jatim 2008 menempatkan KarSa dan Kaji raihan suaranya nyaris sama alias draw. KarSa dengan 211.488 suara dan Kaji dengan 211.378 suara.
Catatan penting lain dari putaran kedua Pilgub Jatim 2008 adalah duet Kaji kalah telak atas KarSa di Kabupaten Pacitan. Di daerah ini, Kaji memperoleh dukungan 88.082 suara dan KarSa dengan 691.171 suara. Realitas politik ini disebabkan merapatnya Partai Demokrat ke pasangan KarSa, di mana tokoh sentralnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berasal dari Pacitan dan jadi figur kebanggaan warga kabupaten ini.
Di samping itu, putaran kedua Pilgub Jatim 2008 memunculkan fakta bahwa Kaji tak mampu mengandaskan KarSa di empat kabupaten di Pulau Madura. Kendati KarSa menang mutlak hanya di Kabupaten Bangkalan–karena dukungan Bupati Fuad Amin Imron, sedang di tiga kabupaten lain di Madura KarSa unggul tipis atas Kaji.
Namun demikian, berdasar hasil sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah pimpinan Mahfud MD, diputuskan pemungutan suara ulang di Bangkalan dan Sampang serta penghitungan suara ulang di Pamekasan.
Rangkaian Pilgub Jatim 2008, 2013, dan 2018 dilewati dan dilakoni Khofifah dengan pasangannya dalam posisi sebagai penantang. Di Pilgub Jatim 2013, Khofifah-Herman S Sumawiredja menghadapi KarSa sebagai petahana. Sebaliknya di Pilgub Jatim 2024, Khofifah-Emil berposisi sebagai petahana.
Secara sederhana, umumnya kesiapan dan konsolidasi dukungan politik petahana lebih terencana, tertata, dan terstruktur dibanding penantang. Hasil survei dari dua lembaga, Poltracking dan Indikator Politik, menunjukkan kebenaran tesis di atas. Di mana hasil survei itu memperlihatkan tren dukungan politik yang makin menguat dan meningkat pada Khofifah-Emil ketika hari H pilgub masih kurang 50 hari lebih.
Apakah peta suara dukungan politik ini bakal bergerak konsisten sampai 27 November 2024 mendatang? Pilgub Jatim 2024 tampaknya agak berbeda vis a vis Pilgub Jatim 2018 dan 2008. Tingkat kompetisi politik di Pilgub Jatim 2024 tak sekeras dan tak setajam vis a vis Pilgub Jatim 2018 dan 2008.
Satu catatan sosial dan politik penting yang muncul di Pilgub Jatim 2018 adalah munculnya fenomena pembelahan dukungan jaringan politik kiai NU terkait dengan pilgub. Ada dua poros kiai NU dalam relasinya dengan politik dukung-mendukung atas cagub dan cawagub yang berkontestasi. Yakni Poros Lirboyo yang mendukung pasangan Gus Ipul-Puti Guntur. Kedua, Poros Tebuireng yang merapat ke pasangan Khofifah-Emil.
Di Pilgub Jatim 2024 ini, tokoh, kiai, dan jemaah NU sebagai salah satu komunitas sosial strategis di masyarakat Jatim, tampak relatif utuh dan tak terlihat adanya pembelahan dukungan politik secara tegas dan keras dengan ketiga pasangan cagub dan cawagub.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com.






