Malang (beritajatim.com) – Pengelolaan sampah rumah tangga di tengah perkembangan perkotaan yang semakin pesat menjadi isu penting dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Kota Malang, yang merupakan salah satu kota dengan perkembangan pesat di Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Permasalahan ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Pada tahun 2023, tercatat bahwa produksi sampah di Kota Malang mencapai 778 ton per hari.
Setiap orang di Kota Malang diperkirakan menghasilkan sekitar 0,65 kg sampah per hari. Angka ini cukup tinggi dan membutuhkan sistem pengelolaan yang efisien agar tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah kota untuk mengatasi permasalahan sampah ini. Beberapa tindakan yang telah dilakukan antara lain penyediaan tempat sampah untuk rumah tangga, tenaga pengangkut sampah dari berbagai instansi, penyediaan tempat pembuangan sementara (TPS), serta tempat pembuangan akhir (TPA).
Namun, tindakan ini masih belum cukup untuk mewujudkan Kota Malang yang bersih, sehat, ramah lingkungan, sedikit sampah, dan mendukung konsep zero waste serta green economy. Masalah pengelolaan sampah tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah kota.
Semua pihak, termasuk masyarakat, perlu bersinergi karena setiap individu juga turut menghasilkan sampah setiap hari. Tingginya densitas penduduk di Kota Malang, yang juga didorong oleh banyaknya mahasiswa dari luar daerah dan wisatawan dari dalam maupun luar negeri, menjadikan masalah sampah sebagai hal yang harus ditangani dengan segera.
Sebagai upaya nyata dalam mengatasi permasalahan sampah rumah tangga, tiga dosen dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini berupa pelatihan dan pendampingan dalam pengolahan sampah organik, terutama kulit buah, menjadi cairan eco enzyme. Tim yang terdiri dari Fithri Mufriantie, SP., MP., Jabal Tarik Ibrahim, dan Nur Ocvanny Amir tersebut berfokus untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pengolahan sampah rumah tangga agar memiliki nilai manfaat yang lebih tinggi.
Pelatihan ini dilaksanakan bersama PKK di lingkungan Kendalsari, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kulit buah merupakan komponen sampah rumah tangga yang cukup besar volumenya, yang sering kali menyulitkan petugas kebersihan dalam pengangkutan ke TPS.
“Bobot sampah kulit buah yang cukup berat ini menyulitkan petugas dalam pengangkutan ke TPS. Namun, jika diolah menjadi eco enzyme, kulit buah tersebut dapat memberikan manfaat lebih,” ujar Fithri Mufriantie, yang akrab disapa Fentie, Selasa (1/10/2024).
Eco enzyme yang dihasilkan dari kulit buah dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Kandungan enzim di dalam eco enzyme membantu mempercepat proses dekomposisi bahan organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman, serta merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat di dalam tanah.
Dengan demikian, eco enzyme tidak hanya bermanfaat untuk mengurangi sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah sebagai produk yang ramah lingkungan.
Pelatihan ini mendapatkan respon positif dari ibu-ibu PKK yang menjadi peserta. Mereka merasa senang karena kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Kami sangat senang dengan adanya pelatihan ini, selain bisa mempererat silaturahmi, kami juga mendapat ilmu dan keterampilan baru untuk mengurangi sampah di lingkungan kami,” ujar Bu Joko, salah satu peserta pelatihan.
Bu Yayuk, peserta lainnya, juga menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang manfaat sampah organik. “Selama ini, sampah kulit buah selalu kami buang, ternyata bisa diolah menjadi eco enzyme yang memiliki manfaat. Bahkan, saya lihat di online shop ada banyak juga yang menjual eco enzyme,” katanya dengan antusias.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan eco enzyme ini antara lain kulit semangka, kulit nanas, kulit melon, kulit bengkoang, kulit jeruk, dan kulit pisang. Para peserta tidak hanya belajar cara mengolah sampah menjadi eco enzyme, tetapi juga diberikan contoh produk yang sudah jadi serta tong sampah khusus untuk pengolahan mandiri di rumah.
Setelah pelatihan, sampah organik yang digunakan sebagai bahan praktik terus dijaga dan dipantau. Produk eco enzyme yang dibuat akan dipanen pada waktu yang telah disepakati bersama, yaitu setelah 90 hari.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang dapat memotivasi masyarakat untuk terus aktif dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pengolahan sampah rumah tangga menjadi eco enzyme tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga memberikan manfaat bagi peningkatan kesuburan tanah serta peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pelatihan ini memberikan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah rumah tangga dapat dilakukan secara mandiri dan memberikan manfaat besar bagi lingkungan.
Inisiatif yang dilakukan oleh para dosen UMM ini menunjukkan pentingnya peran akademisi dalam memberikan solusi inovatif untuk masalah lingkungan. Pengabdian masyarakat seperti ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap konsep green economy dan sustainable development yang juga relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.
Di masa depan, diharapkan akan semakin banyak pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah, baik dari kalangan akademisi, pemerintah, maupun masyarakat. Kota Malang dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam hal pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Dengan demikian, visi untuk mewujudkan Kota Malang yang bersih, sehat, ramah lingkungan, dan mendukung konsep zero waste dapat terwujud. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah di Kota Malang.
Dengan adanya kesadaran bersama dan kerja sama yang kuat, masalah sampah yang dihadapi kota ini dapat diatasi, dan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan dapat terwujud. Pelatihan eco enzyme yang dilakukan oleh dosen-dosen UMM ini merupakan langkah kecil yang memiliki dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan Kota Malang, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengikuti langkah serupa. (dan/kun)







2 Komentar
Mantap
Alhamdulillah, luar biasa peran aktif Bapak Ibu dosen UMM memberikan pendampingan dan pelatihan bagi Balak Ibu PKK. Peran aktif Bapak ibu dosen UMM yang dipimpin langsung oleh Pak Professor Jabal Tarik merupakan bentuk nyata kontribusi UMM, dari Muhammadiyah untuk Bangsa.