Ponorogo (Beritajatim.com) – Permintaan air bersih di Kabupaten Ponorogo meningkat meski hujan sudah mulai turun. Hingga Jumat (27/9/2024), permintaan droping air bersih terus bertambah dari yang sebelumnya 16 dusun di 15 desa dan 7 kecamatan menjadi 17 dusun.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ponorogo, Agung Prasetyo, menyampaikan bahwa Dusun Guyangan di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, menjadi dusun terbaru yang meminta pasokan air bersih. Di sana, sebanyak 137 jiwa atau 55 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan.
“Per Jumat hari ini, ada tambahan 1 dusun, yakni Dusun Guyangan di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung,” ujarnya.
Agung juga membenarkan bahwa meski beberapa hari terakhir hujan turun, intensitasnya belum merata di seluruh wilayah Ponorogo. Hujan hanya mengguyur Ponorogo kota, Kecamatan Jenangan, dan sebagian Ponorogo Timur. Namun, wilayah yang mengalami kekeringan seperti Kecamatan Sawoo, Slahung, Bungkal, dan Badegan belum tersentuh hujan dengan intensitas deras.
“Benar, beberapa hari ini hujan turun, tapi belum merata. Wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan seperti Sawoo dan Slahung belum mendapatkan hujan, sehingga droping air bersih masih terus berjalan,” jelasnya.
Agung menambahkan, meski hujan sudah turun di beberapa tempat, belum ada tanda-tanda pemulihan sumber air di wilayah-wilayah tersebut. Berdasarkan informasi dari BMKG, hujan di wilayah Ponorogo diprediksi akan turun tidak merata.
Musim hujan diperkirakan baru benar-benar masuk pada minggu ketiga bulan Oktober. Dengan demikian, meskipun hujan sudah mulai turun, warga di beberapa wilayah Ponorogo masih harus bergantung pada bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Belum ada laporan untuk penghentian droping air bersih. Sumber air masih kering dan belum pulih. Peralihan musim dari kemarau ke musim hujan diperkirakan terjadi pada minggu ketiga bulan Oktober,” tutup Agung. [end/beq]






