Jember (beritajatim.com) – Rektor Unuversitas Jember Iwan Taruna menyebut radikalisme saat ini tak hanya bercorak agama, namun juga perilaku seksual menyimpang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Trasngender). Penguatan empat pilar menjadi kunci untuk melindungi bangsa dan negara.
“Radikalisme tidak hanya berurusan dengan agama. LGBT itu kan juga radikal. Tapi modelnya tidak dokrin. Kita imbangi dengan cerita pemahaman, sehingga anak-anak (generasi muda) memagari dirinya sendiri terhadap gangguan-gangguan itu,” kata Iwan, usai acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di Gedung Soetardjo, Kabupaten Jember. Jawa Timur, Jumat (13/09/2024).
Universitas Jember berkomitmen terus mendukung acara seperti sosialisasi empat pilar yang memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan ideologi negara. “Kami akan coba terus memberikan fasilitasi yang baik dengan MPR RI. Biasanya MPR yang punya agenda sosialisasi,” kata Iwan.
Menurut Iwan, perguruan tinggi bukan hanya tempat belajar. “Pada mahasiswa harus kita bangun karakternya, karakter kebangsaan,” katanya.
Saat ini gangguan terhadap generasi muda sangat banyak, terutama yang bersumber dari internet. “Aliran kanan-kiri ada semua. Kita harapkan adik-adik dibentengi dengan empat pilar kebangsaan. Ini kan ingin membangun bagaimana sikap kita, ideologi kita, agar negara tetap bersatu, kuat dari berbagai gangguan yang bisa meruntuhkan bangsa ini,” kata Iwan.
Iwan menekankan pentingnya keteladanan generasi yang lebih tua kepada generasi muda. “Percuma nanti nggedabrus (banyak bicaram red) tapi tidak bisa memberi teladan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, selama dua dekade terakhir, masuknya ideologi dan pemahaman radikal harus dicegah. “Memagari itu tidak bisa dengan larangan. Memagari itu harus dari diri sendiri, dari kesadaran sendiri, dan memahami betul arti empat pilar,” katanya.
Empat pilar kebangsaan itu adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Kita sejak awal merdeka hingga saat ini sudah mengalami berbagai peristiwa pemberontakan, pemisahan diri dari NKRI. Terbukti tidak berhasil karena kita punya Pancasila,” kata Lestari.
Indonesia pada 2030 akan menuai bonus demografi. “Saya kira sekarang saatnya kita sama-sama menjaga mereka (generasi muda) dan memberi ruang seluas-luasnya kepada mereka untuk belajar dan mempersiapkan diri,” kata Lestari.
Sosialisi empat pilar yang dilakukan MPR RI tidak menggunakan metodologi doktrin. “Tapi mengajak anak-anak untuk memiliki pemahaman lebih dalam meski waktunya pendek. Paling tidak menggugah mereka untuk mempelajari (empat pilar) lebih jauh,” kata Lestari.
Lestari berharap empat pilar negara, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, tidak hanya dihafalkan. “Tapi pada akhirnya karena anak-anak ini meneruskan keberlangsungan negara dan menerima tongkat estafet, mereka dapat mengaplikasikan dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. [wir]






