Bondowoso, (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso tidak bisa dilepaskan dengan sejarah sosok Raden Bagus Asra yang menjabat sebagai Ki Ronggo (Bupati) pertama kali di sana.
Riwayat religius Raden Bagus Asra di Bondowoso tidak hanya dikenang sebagai kisah tempo dulu, melainkan masih tersisa jejaknya hingga kini.
Salah satunya yakni keturunan RBA Ki Ronggo dilarang memakan daging Kijang dan Ayam Hutan.
Hal itu berkaitan dengan sejarah perjalanan babat tanah Bondowoso pertama kali oleh Raden Bagus Asra.
BeritaJatim.com sempat mewawancarai salah seorang keturunan RBA Ki Ronggo, yakni Sinung Sudrajat beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan mulai dari identitas, riwayat perjalanan hingga wasiat leluhurnya tersebut.
“Raden Bagus Asra lahir di Pamekasan, Madura. Beliau kemudian diasuh oleh Kiai Patih Alus atau Kiai Adipuro, pemangku di karesidenan besuki,” tuturnya.
Raden Bagus Asra lantas mendapatkan titah dari ayah angkatnya itu.
Ia disuruh membangun sekaligus memimpin wilayah di antara jalur Lamajang (Lumajang) dengan Patukangan (Panarukan Situbondo).
“Perjalanan Raden Bagus Asra bersama rombongan cukup ikonik dan melegenda hingga saat ini,” ucap warga Kelurahan Nangkaan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso ini.
Mereka berjalan kaki dari Besuki ke wilayah yang sekarang disebut Bondowoso dengan ditemani seekor kerbau yang bernama Si Melati.
“Berhentinya Si Melati inilah yang kemudian menjadi tempat yang sekarang terbangun alun-alun Bondowoso,” terangnya.
Selama perjalanan, rombongan dituntun oleh dua jenis hewan yakni kijang dan ayam hutan.
“Itulah mengapa ada pantangan bahwa keturunan Raden Bagus Asra dilarang memakan kijang dan ayam hutan,” ulas legislator PDI Perjuangan ini.
Raden Bagus Asra bersama pasukan masuk ke wilayah yang kini menjadi Bondowoso sekira tahun 1790 an.
“Sedangkan pemerintahan Bondowoso resmi terbentuk pada tahun 1819,” ucap pria yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bondowoso tersebut.
Selain memimpin pemerintahan, Raden Bagus Asra juga mensyiarkan ajaran Islam.
“Bahkan ketika usia beliau sepuh, beliau Madek Pandita (bertapa) di wilayah Jember,” sebutnya.
Ketika menjelang ajal, Raden Bagus Asra meminta kepada para keluarganya untuk dimakamkan di Asta Tenggi yang dulunya berupa padepokan.
“Tempat beliau menjalankan dialog spritual. Sekarang jadi pesarean beliau beserta keturunannya,” kata Sinung.
Sebelum wafat, Raden Bagus Asra menyampaikan kalimat pusaka yang dikenang hingga sekarang yakni Suci Tinata Estuning Urip.
“Itu warisan ilmu dari leluhur yang hanya ada di Bondowoso. Artinya Berbuat kebaikan dalam kehidupan ini sebagai bekal kelak di kehidupan selanjutnya,” urai Sinung. [awi/aje]






