Madiun (beritajatim.com) – SMPN 2 Pilangkenceng, Kabupaten Madiun mengalami kekurangan siswa di Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2024. Tetapi, pendaftar justru menumpuk di SMPN 1 Pilangkenceng.
Hal ini terjadi lantaran pendaftar belum paham sistem zonasi yang diberlakukan dalam PPDB. Akibatnya, banyak orangtua yang memaksakan anaknya bersekolah di SMPN 1 Pilangkenceng, yang notabene di luar zona tinggal mereka, akibat masih adanya anggapan sebagai sekolah favorit.
Ketua Panitia PPDB 2024 SMPN 2 Pilangkenceng Imbang Sutrisno mengungkapkan pada Tahun Ajaran Baru 2024-2025, SMPN 2 hanya menerima 167 dari pagu 192 siswa baru. Dari jumlah tersebut, 5 siswa berasal dari SMPN 1 Pilangkenceng karena tidak diterima SMPN 1 Pilangkenceng.
Sutrisno menjelaskan selain 5 siswa dari SMPN 1, SMPN 2 menerima 48 siswa melalui jalur afirmasi, 2 siswa melalui jalur prestasi, dan 112 siswa melalui jalur zonasi. Jumlah ini menunjukkan masih banyak orang tua yang lebih memilih SMPN 1 meskipun tidak berada di zona tersebut.
Menurut Sutrisno, salah satu faktor yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya pemahaman orang tua tentang zonasi sekolah.
‘’Banyak orang tua yang belum mengetahui zona yang sudah ditentukan dan memaksakan anaknya untuk mendaftar ke sekolah di luar zona mereka. Hal ini mengakibatkan penolakan secara otomatis oleh sistem PPDB,’’ katanya, Jumat (12/7/2024).
Selain itu, Sutrisno juga menyoroti singkatnya waktu pendaftaran untuk jalur perpindahan orang tua. Jalur ini memerlukan proses yang panjang, seperti mengurus surat keterangan dari dinas, sehingga banyak orang tua yang tidak memiliki cukup waktu untuk mendaftarkan anaknya.
Sutrisno menyatakan pihak sekolah terus berusaha memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya zonasi sekolah. Hal ini dilakukan melalui berbagai media, seperti sosialisasi dan penjelasan langsung kepada orang tua.
Pihak sekolah juga berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun dapat memberikan sosialisasi yang lebih gencar mengenai zonasi sekolah kepada masyarakat.
‘’Dengan demikian, diharapkan stigma sekolah favorit dapat dihilangkan dan orang tua dapat memahami pentingnya mendaftarkan anaknya ke sekolah sesuai dengan zonasi mereka,’’ terangya. [fiq/beq]






