Malang (beritajatim.com) – Dr. Lud Waluyo, M. Kes. dosen Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan inovasi dalam mengatasi limbah cair domestik dengan memanfaatkan mikroba. Inovasi ini dilatarbelakangi kenaikan jumlah penduduk dan perubahan pola konsumsi menyebabkan limbah domestik yang dihasilkan oleh masyarakat kian mengkhawatirkan.
“Dampak limbah cair yang sebagian besar berasal dari rumah tangga ini tidak hanya menyebabkan pencemaran lingkungan, tapi juga membawa berbagai penyakit menular melalui air yang terkontaminasi,” kata Lud Waluyo, Selasa (9/7/2024) melalui keterangan tertulis.
Dijelaskan dosen biologi UMM ini bahwa limbah cair domestik memerlukan penanganan khusus. Limbah ini perlu diolah dan dikontrol sebelum dibuang agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.
“Utamanya kandungan bahan kimia berbahaya di dalam limbah domestik. Apalagi limbah rumah tangga mengandung sisa-sisa buangan yang mudah diuraikan dan juga tidak mudah diuraikan,” lanjutnya.
Dr. Lud menyebut bahwa zat yang tidak mudah terurai adalah zat pembunuh kuman dan serangga, sisa detergen dan pestisida. Oleh karena itu perlu pendekatan khusus untuk diuraikan secara efektif.
“Secara mikrobiologi, salah satu upaya menangani hal tersebut adalah dengan memanfaatkan isolat mikroba asli (indigen) yang berpotensi dapat menguraikan limbah,” ungkapnya.
Melalui penelitian ini, Lud berusaha untuk mempercepat proses penguraian limbah menggunakan mikroba yang terbukti dapat mengurangi waktu penguraian limbah hanya dalam waktu seminggu. Penelitiannya memakai konsorsium mikroba, yaitu perpaduan lebih dari dua jenis bakteri yang bekerja sama dalam menguraikan limbah.

Dalam penelitian ini, terdapat empat jenis bakteri yang sudah diuji menunjukkan kinerja efektif dalam menguraikan komponen limbah seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang menjadi penyebab bau tidak sedap. Dengan terurainya protein, bau tidak sedap yang biasanya timbul dari limbah cair bisa dihilangkan.
“Limbah rumah tangga bukan hanya mengandung karbohidrat, lemak, dan protein, tetapi juga logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Logam berat dalam konsentrasi kecil dapat mematikan mikroba,” katanya.
Mikroba dalam penelitian Lut mampu bertahan dan menguraikan limbah meski dalam kondisi yang mengandung logam berat. Hasilnya penelitian tersebut bermanfaat untuk berbagai jenis limbah cair domestik, misalnya limbah comberan, air mandi, detergen, bahkan septic tank.
“Di samping itu, formula konsorsium inokulum itu juga bisa bertindak sebagai biopestisida hayati karena mampu mematikan patogen,” ungkapnya.
Penelitian yang dilakukan oleh dosen Biologi UMM ini memperoleh pendanaan dari Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT). Di samping itu, inovasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut dalam pengelolaan limbah industri yang memiliki beban pencemaran lebih berat.
“Limbah yang diuraikan oleh bakteri kemudian dapat diuraikan lebih lanjut oleh tumbuhan air sebelum dibuang ke lingkungan. Proses ini tidak hanya efektif dalam mengurangi polusi tetapi dalam mitigasi dampak logam berat yang seringkali menjadi penyebab masalah kesehatan seperti autisme pada anak,” tutup Dr. Lud Waluyo dalam keterangan. [dan/beq]






