Pasuruan (beritajatim.com) – Masyarakat Kota Pasuruan sangat menyesalkan kinerja PDAM Kota Pasuruan yang dianggap tak profesional. Pasalnya meski air PDAM di dalam rumahnya mampet masih aja masyarakat dikirim nota pembayaran air.
Seperti yang dialami Hilmi, warga Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan. Dirinya bersama keluarga sudah tidak merasakan air PDAM selama delapan bulan lamanya.
“Sempat keluar airnya tapi ya gitu hanya kecil, cuman 3 hari saat hari raya bulan April kemaren. Setelah itu air sudah gak keluar lagi hingga sekarang. Jadi setiap harinya ambil air dari sumur bor, kadang juga beli,” terangnya, Senin (1/7/2024).
Selain Hilmi, tetangga kanan kirinya juga merasakan hal yang sama dengan tidak merasakan segarnya air PDAM. Dirinya beserta beberapa warga lainnya juga masih melakukan pembayaran.
Sehingga hal ini menjadi perhatian anggota DPRD Kota Pasuruan, Mochammad Mahfudz saat dihubungi melalui pesan singkat. Mahfudz mengatakan bahwa dirinya menyayangkan kinerja PDAM Kota Pasuruan yang tidak maksimal selama ini.
Bahkan dirinya sempat menawarkan bantuan kepada direktur untuk memenuhi dan memecahkan permasalahan yang selama ini buntu. Namun saat dimintai kerincian data, PDAM Kota Pasuruan masih belum memberikannya.
“Kami hanya tau data dari direktur sebelumnya terkait permasalahan yang terjadi, mulai dari jaringan hingga perencanaan bisnis. Namun sampai saat ini kami masih belum diberikan bagaimana perencanaan yang akan dilakukan oleh direktur yang baru,” jelas Mahfudz.
Hal ini membuat Mahfud menanyakan, apakah air sumber SPAM Umbulan yang diambil oleh PDAM Kota Pasuruan ini mencukupi atau kekurangan. Mengingat air umbulan ini juga di jual ke Surabaya dan Gresik.
“Saya sangat khawatir apa air umbulan yang ada di pasuruan ini debitnya sudah turun sampai warga Pasuruan sendiri tidak bisa merasakannya. Mengingat air itu juga di jual ke Surabaya dan Gresik,” cemanya. (ada/kun)






