Surabaya (beritajatim.com) – Akademisi UM Surabaya (Universitas Muhammadiyah Surabaya) Radius Setiyawan menilai judi online masih sulit diberantas di tengah arus kemajuan teknologi digital yang massif seperti saat ini.
Radius mengatakan bahwa di era kecepatan informasi seperti sekarang, otak manusia mudah diserang oleh informasi dari iklan, media sosial, berita hingga gosip.
“Otak manusia sangat mungkin bisa diretas, akibatnya adalah tipu daya, karena imaji mendapat uang dengan mudah dan menjadi kaya raya dengan cara yang instan,” kata Radius kepada beritajatim.com, Selasa (11/4/2024).
Ia pun menyoroti peran influencer dalam memasarkan judi online. Menurutnya, hal itu sangat berbahaya bagi masyarakat. Mengingat influencer atau artis kerap dijadikan contoh oleh para pengikutnya.
“Apa yang mereka katakan berpotensi mempengaruhi pola perilaku pengikut. Bisa dikatakan influencer menjadi trendsetter bagi milenial dan generasi Z. Itu didukung situasi ekonomi masyarakat yang lemah dan labil. Jadi, bisa dipastikan judi online jadi jalan keluar,” urainya.
Beberapa hari terkahir, masyarakat juga dihebohkan dengan kasus polwan di Mojokerto, Jawa Timur yang membakar suaminya akibat judi online. Menariknya, korban atau suami tersebut juga seorang anggota polisi.
Radius menilai, kasus judi online yang dilakukan oleh oknum polisi ini menjadi indikasi bahwa masyarakat hidup dalam kerentanan. Artinya, judi online tidak memandang itu polisi atau masyarakat sipil lainnya.
“Kecanduan judi online bisa menyerang siapa saja. Melihat kasus di Mojokerto, pemerintah harus lebih serius memberantas judi online karena bahaya dan kerugiannya sangat besar, bahkan berakhir kematian,” katanya.
Radius menambahkan, di tengah maraknya kasus judi online ini, sudah sepatutnya pemerintah dalam fungsinya tidak hanya sebagai social control saja, tetapi juga perlu melakukan aksi nyata.
“Dengan meningkatkan literasi digital agar masyarakat tidak mudah terperdaya dalam dunia digital yang berdampak pada kekacauan sosial,” terangnya.
Di sisi lain, menurutnya di tengah kondisi banjir informasi seperti sekarang masyarakat juga perlu berpikir reflektif. Artinya, tidak lagi melihat dunia dari sisi permukaan saja.
“Masyarakat harus menyadari ada dampak besar yang ditimbulkan seperti kehilangan produktivitas terutama untuk kalangan usia muda, terjerat pinjol, perceraian, dan konflik rumah tangga yang meningkat,” pungkasnya. [ipl/aje]






