Ponorogo (beritajatim.com) – Sekitar 2 pekan terakhir, sebagian warga di wilayah Kabupaten Ponorogo kesulitan untuk mendapatkan Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram. Apa penyebab kelangkaan gas bersubsidi ini?
Warga harus keluar masuk toko sembako berkali-kali demi mendapatkan gas bersubsidi dari Pemerintah tersebut. Seperti yang dialami oleh Erna Aminin, warga Desa/Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Ia mengaku sudah ada 4 toko sembako yang Ia masuki, namun semua nihil. Stok barang yang biasa disebut gas melon itu habis, dan belum ada pengiriman.
“Di wilayah Desa Sukorejo, saya sudah mencari ke 4 toko sembako, namun tidak ada yang dibeli. Semua toko sembako itu kompak bahwa stoknya habis dan belum dapat kiriman,” ungkap Ibu 2 anak itu, Senin (03/06/2024).
Toko-toko sembako yang Ia datangi itu, merupakan toko yang menjadi langganan saat Ia membeli gas melon. Erna berencana ke area Ponorogo Kota untuk membeli gas tersebut. Sembari, setiap toko sembako di sepanjang jalan yang Ia lalui juga akan disinggahi untuk menanyakan adanya stok gas subsidi itu.
“Kalau di Sukorejo tidak ada, ya mau tidak mau cari di kota, soalnya ya buat masak mau gimana lagi. Cari jauh dan bisa jadi harganya naik, itu sudah resiko,” katanya.
Problem warga kesulitan gas itu, ternyata juga sudah disadari oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakum) Ponorogo. Dinas yang berkantor di Gedung Graha Krida Praja atau awam disebut gedung lantai 8 itu pun, juga sudah mencari sebab musabab gas melon itu sulit didapatkan oleh sebagian masyarakat bumi reog. Hasilnya, diketahui bahwa kesulitan mencari gas itu, ditengarai oleh adanya 1 Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Ponorogo yang tidak beroperasi. Tidak beroperasinya SPBE itu disebabkan oleh perizinan yang habis sejak bulan April lalu.
“Jadi di Ponorogo itu ada 2 SPBE, namun kini hanya 1 yang masih beroperasi. Satunya tutup karena terkendala izin sejak April lalu,” kata Kabid Perdagangan Disperdakum Ponorogo, Paras Paravirodhena.
Paras menyebut bahwa sebenarnya Pertamina dan Pemkab Ponorogo sudah melakukan antisipasi terkait sulitnya mencaru keberadaan gas melon di sebagian wilayah Ponorogo itu. Yakni distribusi gas melon yang terdampak dari tutupnya SPBE itu dicover dari wilayah Madiun, Magetan hingga Ngawi. Namun, nampaknya upaya itu belum memenuhi kebutuhan warga terkait kebutuhan gas melon. Paras mengeklaim bahwa secara kuota tidak berkurang. Namun, dimungkinkan ada keterlambatan dari datangnya distribusi gas tersebut.
“Kalu secara kuota tidak berkurang, ya hanya terjadi keterlambatan kedatangan saja,” katanya.
Ia berharap 1 SPBE yang tutup itu segera dibuka lagi. Ia menginginkan pengusaha pemilik SPBE yang tutup, segera merampungkan proses perpanjangan izin. Dengan begitu, 1 SPBE itu bisa beroperasi kembali ke sedia kala.
“Semoga izinnya segera turun dan keberadaan gas melon di Ponorogo kembali normal,” pungkasnya. [end/aje]






