Surabaya (beritajatim.com) – Benteng Van Den Bosch, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Benteng Pendem, terletak di Komplek Angicipi Batalyon Armed Kostrad 12, Kelurahan Pelem, RT/RW 07/02, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng ini merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda yang dibangun antara tahun 1839 dan 1845 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Van Den Bosch.
Nama Benteng Pendem berasal dari kondisi fisik benteng yang dulu dikelilingi oleh gundukan tanah setinggi bangunan itu sendiri, sehingga tampak ‘terpendam’ di dalam tanah. Hal ini memberikan kesan unik dan menjadi salah satu daya tarik utama dari benteng ini.
Benteng ini dibangun dengan dua tujuan utama. Pertama, untuk menguasai jalur transportasi air yang saat itu sangat ramai digunakan untuk perdagangan dan aktivitas lainnya, serta menghambat serangan lanjutan dari perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 dan 1830. Terletak di lokasi yang strategis, benteng ini memanfaatkan aliran sungai Bengawan Solo di sebelah utara dan sungai Bengawan Madiun di sebelah selatan dan timur.
Pada masa Agresi Militer Belanda I, bagian selatan Benteng Pendem terkena bom. Setelah Indonesia merdeka, benteng ini digunakan sebagai Asrama Tentara Batalyon Artileri Medan 12 Ngawi (Tentara Armed) dan fungsi ini masih berlangsung hingga saat ini. Pada tahun 2023, setelah direvitalisasi, Benteng Pendem/Benteng Van Den Bosch ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, menunjukkan pentingnya benteng ini dalam sejarah Indonesia.
Keunikan dan Fakta Menarik Benteng Van Den Bosch
1. Jumlah Lubang Pintu dan Jendela
Benteng ini memiliki total 510 lubang pintu dan jendela, jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan Lawang Sewu di Semarang yang terkenal memiliki 429 lubang. Banyaknya lubang ini menambah keunikan dan kompleksitas arsitektur benteng.
2. Pondasi Kuat
Sekitar 70% dari struktur asli benteng ini masih berdiri kokoh dengan pondasi sedalam 5 meter. Kekuatan pondasi ini memastikan kestabilan benteng sejak tahun 1845 hingga kini, meskipun telah melewati berbagai perubahan dan peristiwa sejarah.
3. Luas Lahan
Benteng Van Den Bosch dibangun di atas lahan seluas 21,18 hektar, setara dengan seperempat luas Monas di Jakarta. Luasnya lahan ini memberikan gambaran betapa pentingnya benteng ini dalam strategi militer Belanda pada masa itu.
Dengan statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional, Benteng Van Den Bosch diharapkan dapat terus dilestarikan dan menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang memberikan wawasan sejarah kepada generasi muda dan menjadi kebanggaan masyarakat Ngawi. Kunjungi Benteng Van Den Bosch dan rasakan sendiri perjalanan menyusuri jejak sejarah yang begitu kaya di Kabupaten Ngawi. [but]






