Jember (beritajatim.com) – Bukan rahasia lagi jika petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami krisis pupuk menyusul pembatasan oleh pemerintah pusat. Bupati Hendy Siswanto dan anggota DPRD Jatim Muhammad Fawait punya cara yang berbeda untuk mengatasinya.
Perbedaan cara ini disampaikan Hendy dan Fawait saat memaparkan visi dan misi secara terpisah, dalam penjaringan kandidat bupati di hadapan pengurus Dewan Pimpinan Daerah PAN Kabupaten Jember, di Hotel Rembangan, Minggu (26/5/2024).
“Kekurangan pupuk terus terjadi di Jember dari dulu sampai sekarang. Apa yang dilakukan? Saya membuat pabrik pupuk organik. Tujuan pertamanya untuk menyuburkan kembali lahan di Jember. Kedua, untuk mengurangi kebutuhan pupuk kimia non-subsidi,” kata Hendy.
Hendy menyebut pendirian pabrik pupuk adalah program nekat. “Belum sempurna. Pabrik pupuk yang saya bangun perlu bantuan tangan-tangan dari Bapak Ibu sekalian. Se-Indonesia baru Pemkab Jember yang membuat pabrik pupuk itu,” katanya.
Pupuk organik buatan pabrik tersebut dibagikan gratis untuk para petani di Jember. “Esensinya dengan pembuatan pabrik pupuk organik ini, kami ingin mengentaskan permasalahan pupuk di Jember inim karena melihat ke depan nanti, masalah pupuk tidak akan pernah usai,” kata Hendy.
“Maka dari itu kita harus berani, harus nekat, membuat pabrik pupuk. Pabrik pupuk ini bisa sukses kalau dibantu teman-teman semua. Pemkab Jember menyiapkan anggaran untuk itu,” kata Hendy.
Hasilnya cukup menggembirakan. Menurut Hendy, salah satu sawah di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, menghasilkan 3,6 ton padi per hektare dengan menggunakan pupuk kimia. “Kita ubah dengan pupuk organik kita, satu hektare bisa 5,8 ton. Itu luar biasa,” katanya.
Berbeda dengan Hendy yang memilih membangun pabrik pupuk organik untuk mengubah kebiasaan petani, Fawait memilih mengalokasikan anggaran untuk pembelian pupuk kimia bagi petani. Petani nantinya bisa membeli pupuk kimia tersebut dengan harga subsidi.
“Kita tahu Jember adalah lumbung pangan nasional. Jember lumbung pangan provinsi. Salah satu kabupaten yang memiliki lahan pertanian terluas adalah Kabupaten Jember. Maka kami bertekad ke depan, petani harus sejahtera. Buruh tanu harus sejahtera. Nelayan harus sejahtera,” kata Fawait.
“Yang dibutuhkan petani pertama adalah ketersediaan pupuk. Kalau memang pupuk itu langka, ke depan bupati yang berasal dari kader partai politik ini akan membeli pupuk non subsidi untuk dijual seharga subsidi kepada petani,” kata Fawait.
“Ada yang ngomong: apa bisa? Apa APBD Jember cukup untuk melaksanakan itu? Kalau tidak bisa, jangan jadi bupati,” kata Fawait.
Keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember, menurut Fawait, membutuhkan sosok bupati yang berstatus kader partai. “Dalam partai politik, kita diajarkan berdiplomasi. Kita diajarkan melakukan lobi-lobi baik kepada teman, antarpartai, antarfraksi, antarkomisi, bahkan dengan pemerintah di atas kita,” kata Fawait. [wir]







2 Komentar
Gedabrus wae ghoooust
Yang lebih realistis adalah program nya pak Hendi.karena masalah utamanya adalah minimnya pasokan pupuk.jika buat pabriknya maka pasokan meningkat dan bisa dirasakan langsung dampKnya..sedangkan program nya Gus fawaid msh mengambang dan blm tentu mudah karena harus loby loby yg tentunya penuh dengan liku liku…