Surabaya (beritajatim.com) – Menyadari bahaya gizi buruk atau wasting yang kian meningkat, Unicef, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan Fatayat NU Jatim.
Upaya ini dilakukan melalui roadshow bertajuk “Ayo Cegah dan Obati Wasting Biar Ga Stunting” yang dihadiri oleh 101 Ning dari Fatayat NU Jatim di Unusa Kampus B Surabaya, Rabu (15/5/2024).
Chief Field Office Unicef, Arie Rukmantara menyatakan bahwa roadshow ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi aktif anggota masyarakat. Khususnya dari organisasi berbasis agama, dalam deteksi dini dan rujukan tepat waktu bagi anak-anak yang menderita wasting.
Menurut dia, kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan organisasi berbasis agama dan organisasi wanita, sangat penting untuk pencegahan dan deteksi dini wasting, salah satu bentuk kekurangan gizi pada anak balita yang sangat berbahaya. “Unicef percaya pada slogan anak muda terkini, ‘collabs or collapse’, berkolaborasi atau gagal,” tegasnya.
Dia menjelaskan bahwa kolaborasi dengan organisasi berbasis agama seperti Fatayat NU sangatlah penting karena menjadi salah satu instrumen yang efektif untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan cara yang mudah diterima dan dipraktikkan. “Kerja sama ini penting untuk mendekatkan diri pada populasi muda, untuk menjadi promotor edukator wasting sebelum stunting,” tuturnya.
Arie Rukmantara juga menyampaikan data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang menunjukkan bahwa angka prevalensi stunting di Indonesia masih bertahan di angka 21,5%.
Sedangkan prevalensi wasting mengalami kenaikan dari 7,7% di tahun 2022 menjadi 8,5% di tahun 2023. Di Jawa Timur sendiri, prevalensi wasting mengalami sedikit penurunan dari 9,2% pada tahun 2019 menjadi 7,2% pada tahun 2022. “Namun, angka ini masih tergolong tinggi dan perlu upaya bersama untuk menurunkannya,” kata dia.
Sementara Rektor Unusa, Achmad Jazidie, menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada Unusa untuk menjadi tempat berkumpulnya 101 Ning dalam mengkampanyekan pencegahan wasting dan stunting. “Unusa satu himpunan atau satu rumpun dengan ning-ning yang kali ini dilibatkan dalam penanganan bebas wasting, supaya tidak stunting,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa Unusa berkomitmen untuk menangani gizi buruk bersama Unicef dan Fatayat NU Jatim untuk memastikan masa depan Indonesia yang sehat. Menurut dia, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan.
“Pertama pendekatan sensitif yang menjadi urusan tim kesehatan dan gizi. Kedua pendekatan spesifik, yang melibatkan banyak peran, mulai dari perguruan tinggi, organisasi wanita atau remaja, hingga perangkat desa,” ujar dia.
Ia pun menegaskan pentingnya kolaborasi ini untuk mengatasi stunting di Indonesia. “Kalau kita tidak bisa mengatasi stunting di Republik ini, kita semua mengalami dosa konstitusi. Karena janji konstitusi itu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan anak-anak kita, yang mengidap stunting itu mengalami hambatan buat kecerdasan,” pungkasnya.[asg/kun]






