Lumajang (beritajatim.com) – Banjir lahar dingin Gunung Semeru yang menerjang beberapa wilayah di Kabupaten Lumajang telah merenggut nyawa tiga orang. Keluarga korban yang ditinggalkan pun merasakan duka mendalam.
Fathur Rokhim (38) asal Desa Sumberurip, salah satu yang kehilangan istri tercintanya. Ia menceritakan dengan pilu bagaimana ia tak sempat menolong sang istri saat banjir lahar dingin menerjang.
“Saat itu saya tidur. Tiba-tiba istri saya mengetuk, minta dibukakan lawang (pintu). Saya buka lawang itu. Saya mau menolong, tapi saat menoleh sudah amblas, tidak sempat menolong,” ujarnya lirih.
Edi Suryanto (28) juga merasakan duka yang sama. Ia kehilangan kedua orang tuanya yang terjebak di sungai saat jembatan putus diterjang lahar dingin.
“Waktu itu bapak dan ibu pulang dari terapi sekitar jam 21.30. Dapat informasi dari warga kejadian sekitar jam 22.00 jatuh dari jembatan,” ungkap Edi dengan sedih.
Menteri Sosial Tri Rismaharini (Mensos Risma) hadir di tengah duka para ahli waris pada Senin (22/4). Beliau memberikan dukungan moril dan santunan senilai Rp 15.000.000 bagi setiap korban meninggal.
“Kami akan pandu dari Jakarta untuk call sign,” ujar Mensos Risma.
Para ahli waris pun mengucapkan rasa syukur atas kunjungan dan bantuan dari Mensos Risma.
“Bersyukur, Alhamdulillah. Terima kasih atas bantuannya, semoga bermanfaat untuk bapak dan ibu saya,” tutur Edi penuh syukur.
Bantuan Kemensos
Kemensos tak hanya memberikan santunan, namun juga telah terjun langsung untuk menangani bencana banjir lahar dingin Semeru di Kabupaten Lumajang dan banjir luapan sungai di Kota Lumajang.
Mensos Risma juga menyampaikan bahwa pihaknya akan memasang alarm bencana di Semeru.
“Kami akan pasang alarm bencana di Semeru. Nanti kita akan pasang alarm yang bisa menjangkau 5 kilometer,” ujar Mensos Risma. [aje]






