Ringkasan Berita:
- Pemkot Mojokerto melalui DLH mendorong pengelolaan sampah mandiri di kawasan, fasum, dan Horeka untuk menekan timbulan sampah sejak sumber.
- Sampah organik diolah sendiri, sampah anorganik dipilah bersih, sementara limbah B3 dikelola pihak ketiga berizin, sesuai surat edaran DLH.
- DLH Mojokerto juga melakukan pembinaan rumah tangga lewat bank sampah, kompos biopori, dan ecoenzim untuk pengelolaan sampah berkelanjutan.
Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya dengan mendorong pengelolaan sampah mandiri di kawasan, fasilitas umum (fasum), serta hotel, restoran, dan kafe (Horeka).
Langkah ini menjadi tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang mengamanatkan pengurangan sampah secara terpadu sejak dari sumbernya. Sebagai implementasi, DLH telah menerbitkan surat edaran terkait pengelolaan sampah di kawasan, fasum, dan Horeka.
Plt Kepala DLH Kota Mojokerto, Ikromul Yasak menegaskan bahwa setiap penanggung jawab atau pengelola kawasan, fasum, maupun Horeka wajib melakukan pengelolaan sampah secara mandiri di lokasi masing-masing. Pengelolaan sampah harus dimulai dengan pemilahan sejak dari sumbernya agar penanganan sampah lebih efektif.
“Sampah wajib dipilah meliputi sampah B3, sampah organik, sampah anorganik, dan sampah residu. Ini menjadi langkah penting agar pengelolaan sampah lebih efektif dan tidak seluruhnya berakhir di TPA. Sampah B3 wajib dikelola melalui pihak ketiga yang telah memiliki izin pengelolaan limbah B3,” ungkapnya, Senin (11/5/2026).
Sampah organik diolah secara mandiri melalui komposter, biopori, budidaya maggot, maupun metode pengolahan organik lainnya. Sedangkan sampah anorganik diwajibkan dikumpulkan dalam kondisi bersih, kering, terpilah, dan tidak tercampur dengan sampah organik, limbah B3, maupun sampah residu agar dapat dimanfaatkan kembali.
“Pengelolaan sampah mandiri menjadi langkah bersama untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Melalui pengelolaan yang baik, sampah tidak hanya menjadi beban lingkungan tetapi juga dapat memberikan nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain mendorong pengelolaan sampah di kawasan, fasum, dan Horeka, DLH Kota Mojokerto juga terus melakukan pembinaan kepada masyarakat agar mengelola sampah sejak dari rumah. Pembinaan dilakukan melalui pengembangan bank sampah, pembuatan kompos dengan biopori, hingga pemanfaatan ecoenzim. [adv-kom]






