Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Ratih Puspa menyoroti adanya praktik konsumsi dan konsumerisme menjelang Lebaran. Menurutnya, media massa memegang peran penting terhadap fenomena konsumerisme.
Representasi tentang budaya konsumsi disuguhkan melalui iklan, film, hingga konten media sosial yang sangat persuasif.
“Imbasnya, masyarakat menjadi konsumtif dan demam konsumerisme marak terjadi. Pada masyarakat modern, konsumsi simbol menjadi sesuatu yang krusial,” ujar Ratih, Minggu (7/4/2024).
Mereka tidak sekadar membeli barang atau jasa, tapi juga nilai dan simbol dari barang tersebut. Simbol menjadi penanda kelas sosial, prestige, gengsi, status, atau apapun yang melekat pada identitas seseorang.
Demikian pula yang terjadi pada momen lebaran. Ratih menilai bahwa praktik konsumsi menjadi penting untuk menguatkan simbol identitas pada diri seseorang.
“Di sini terdapat identitas yang ingin disampaikan oleh masyarakat modern, yakni pulang kampung dengan baju terbaik, bawa HP baru, pakai banyak perhiasan. Lagi-lagi menandakan kelas sosial, status, gengsi,” ujar Ratih.
Meski begitu, praktik konsumsi di Indonesia layaknya dua mata pisau. Di sisi lain, praktik konsumsi mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.
“Kalau pasar lokal seret, perekonomian juga bakal kena dampaknya. Jika UMKM banyak nggak laku dan bangkrut, akan timbul pengangguran juga. Jadi semuanya itu perlu dilihat dalam konteks yang sesuai dan kegiatan konsumsi pun banyak manfaatnya bagi perekonomian lokal,” urainya.
Ratih menjelaskan, budaya konsumerisme menjelang lebaran di Indonesia tidak sampai ke tahap mengkhawatirkan seperti negara maju. Pasalnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang berasal dari kelas menengah ke bawah.
“Oleh karena itu, praktik konsumsi menjelang lebaran tidak sepenuhnya mengubah makna lebaran itu sendiri. Lebaran masih menjadi ajang silaturahmi kelas nasional,” katanya.
Ratih menilai praktik konsumsi di Indonesia juga masih sustainable. Masyarakat cenderung membeli barang yang bisa didaur ulang. Bahkan baju lebaran masih bisa dipakai bertahun-tahun kemudian.
“Kadang didonasikan. Sampai akhirnya jadi lap, keset. Belum lagi anak muda jaman sekarang beli baju thrift,” paparnya.
Dalam menghadapi jeratan budaya konsumerisme menjelang lebaran, Ratih menyebut bahwa lebaran tidak sebatas memamerkan pakaian baru, namun tentang kasih sayang, kedermawanan, dan kebersamaan dengan sesama. [ipl/but]






