Surabaya (beritajatim.com) – Dalam beberapa distrik sekolah di Amerika Serikat (AS), meskipun jumlah siswa Muslim masih terbilang sedikit, keberadaan mereka menjadi hal yang penting dalam beberapa komunitas. Terutama saat bulan suci Ramadhan tiba, di mana puasa dari fajar hingga terbenamnya matahari adalah kewajiban bagi umat Islam.
Melansir Independent, di Dearborn, Michigan, sebuah kota dengan populasi keturunan Arab, staf dan guru sekolah negeri berupaya memberikan kemudahan bagi siswa yang menjalankan puasa Ramadhan. David Mustenon, juru bicara sekolah Dearborn, menyatakan bahwa mereka membolehkan siswa menjalankan ibadah tanpa mengganggu proses pembelajaran. Usaha pun dilakukan untuk menemukan ruang atau kegiatan alternatif selama jam makan siang bagi siswa yang sedang berpuasa.
“Kami mengizinkan para siswa untuk menjalankan ibadah puasa selama tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kami juga mencoba mencari ruang atau kegiatan lain di sekolah selama makan siang untuk para siswa yang mungkin berpuasa” ujar juru bicara Sekolah Dearborn, David Mustonen.
St Paul, Minnesota, Sekolah Dasar Afrika Timur juga telah mengalokasikan ruang di perpustakaan bagi siswa yang berpuasa dan tidak ingin berada di kantin selama waktu istirahat. Kepala sekolah, Abdisalam Adam, menegaskan pentingnya memperhatikan kebutuhan para siswa sebagai bentuk perhatian terhadap siswa secara keseluruhan.
Bagi sekolah-sekolah yang mungkin kurang familiar dengan tradisi Muslim, tersedia sumber daya seperti Islamic Networks Group yang menyediakan informasi tentang Ramadhan bagi umat Islam secara daring. Direktur eksekutif Islamic Networks Group, Elgenaidi, menyarankan agar siswa yang berpuasa diberi kelonggaran dalam aktivitas fisik yang terlalu berat di kelas olahraga, serta diberi kesempatan untuk mengganti ujian yang mereka lewatkan karena merayakan hari raya Idul Fitri setelah Ramadhan.
Adam Alcodray, 14 tahun, memuji pengertian para guru di sekolah Dearborn selama bulan Ramadhan. Mereka memahami kondisi murid Muslim dan memberikan kelonggaran dalam pelajaran.
“Ada banyak guru yang lebih memahami, mereka membiarkan kami untuk bekerja lebih sedikit. Mereka tidak marah karena mereka tahu bahwa kami merasa lapar” ungkap Alcodray, murid kelas 9.
Sedangkan Hussein Mortada, seorang siswa senior berusia 17 tahun di SMA Dearborn, menekankan pentingnya solidaritas keluarga selama bulan Ramadhan, di mana semua anggota keluarganya berpuasa untuk merasakan pengalaman yang sama.
“Di keluarga saya, semua orang berpuasa. Semua orang mengalami hal yang sama. Sepanjang bulan ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan membuat agama Anda lebih kuat” ucap Mortada.
Dalam konteks ini, sekolah-sekolah Amerika Serikat terus berupaya untuk memahami dan mengakomodasi kebutuhan siswa Muslim selama bulan suci Ramadhan. Langkah-langkah seperti menyediakan ruang alternatif, memperhatikan kelonggaran dalam pelajaran, dan mendukung solidaritas keluarga menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang agama mereka. [aje]






