Sumenep (beritajatim.com) – Operasi pasar beras murah yang digelar tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kabupaten Sumenep bekerja sama dengan Bulog Madura dilakukan di Pasar Anom dan Pasar Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep.
Operasi pasar tersebut langsung diserbu warga, terutama ‘emak-emak’. Mereka pun rela mengantre demi mendapatkan beras dengan harga jauh di bawah harga pasar. Setiap orang diberi jatah pembelian maksimal 10 kg atau 2 sak beras kemasan 5 kg. Untuk setiap sak 5 kg, pembeli harus membayar Rp 54.000.
Uniknya, para pembeli yang telah selesai membeli beras murah, jari tangannya diminta menyentuh bantalan stempel yang telah diberi tinta, sebagai tanda bahwa orang ini telah memanfaatkan operasi pasar dengan membeli beras murah.
Penandaan jari pembeli dengan tinta stempel itu tampaknya diterapkan petugas, untuk menghindari kembalinya lagi orang yang telah membeli beras dan mengulangi pembelian yang sama. Petugas agaknya menginginkan agar beras murah tersebut bisa dinikmati lebih banyak pembeli dan menghindari satu orang membeli berkali-kali.
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Sumenep, Dadang Dedy Iskandar mengatakan, operasi pasar tersebut digelar sejak awal bulan ini. Selama Februari 2024, direncanakan operasi pasar tersebut berlangsung 6 kali.
“Komoditas yang dijual di operasi pasar ini adalah beras medium SPHP (Stabilisasi Pasokan Harga Pasar) harga Rp10.900 per kilogram. Kemudian juga ada minyak goreng dan gula,” katanya, Kamis (22/02/2024).
Untuk beras, dalam setiap operasi pasar, jumlah yang digelontorkan berkisar 3-5 ton. Kemudian untuk minyak goreng sebanyak 360 liter. Operasi pasar tersebut selain digelar di Pasar Anom dan Pasar Bangkal, juga di beberapa pasar kecamatan lain.
“Kami juga melaksanakan operasi pasar di Kecamatan Rubaru, Dasuk, dan Dungkek. Jadwalnya bergantian dengan Pasar Anom dan Pasar Bangkal,” terang Dadang.
Ia menambahkan, operasi pasar direncanakan tidak hanya di kecamatan daratan, melainkan juga akan dilaksanakan di kecamatan kepulauan. “Tapi kami masih melakukan koordinasi dengan Bulog terkait ketersediaan stok dan akomodasinya, karena di wilayah kepulauan,” ujarnya.
Dadang menjelaskan, untuk 2024, Bulog menyediakan beras SPHP sebanyak 100 ton untuk Kabupaten Sumenep. Jumlah tersebut bisa saja bertambah, mengingat pada 2023, beras SPHP yang tersalurkan untuk Kabupaten Sumenep mencapai 225 ton. “Bisa saja tahun ini jumlah beras SPHP dari Bulog untuk Sumenep mencapai 300 ton, atau sesuai kebutuhan. Tapi untuk tahap awal, 100 ton beras sudah disiapkan untuk Sumenep,” paparnya. (tem/kun)






