Ponorogo (beritajatim.com) – Pasca coblosan tanggal 14 Februari lalu, sejumlah orang, termasuk tim sukses (timses) dan anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di Ponorogo mendatangi poli jiwa di RSUD dr. Harjono. Dari 10 orang yang melakukan konsultasi, kebanyakan mereka mengeluhkan stres setelah pencoblosan.
“Ada beberapa orang yang sudah berkonsultasi, termasuk timses dan anggota KPPS. Berbagai keluhan yang dikonsultasikan,” kata dr. Andri Nurdianasari, Spesialis Kedokteran Jiwa di RSUD dr. Harjono Ponorogo, Kamis (22/2/2024).
Menurut dr. Andri, mayoritas pasien mengalami insomnia, kehilangan nafsu makan, sakit perut, mual, dan pusing. Selain itu, gejala lain yang juga dialami seperti kecemasan dan kekhawatiran berlebihan. Untuk pasien yang merupakan timses, banyak mengalami stres karena hasil pemilu tidak sesuai harapan.
“Mungkin pasien yang timses ini,sudah mencari (dukungan) semaksimal mungkin namun hasilnya cuma sedikit,” katanya.
Sementara untuk anggota KPPS, merasakan beban kerja selama ini, mulai dari acara rapat-rapat hingga pencoblosan. Yang bersangkutan ini merasa kelelahan, lelah fisik dan psikis. Bahkan, ada yang mencapai tingkat paranoid.
“Jadi untuk anggota KPPS ini, ada kasus selisih angka. Jadi yang bersangkutan merasa ketakutan. Merasa orang sekitarnya, menyalahkannya, sehingga pasien sampai tidak berani keluar,” katanya.
Meskipun tidak diketahui secara pasti dari timses mana atau KPPS mana pasien berasal, dr. Andri menjelaskan bahwa setiap konsultasi membuka wawasan mengenai asal usul gejala yang dialami.
“Gejala yang dialami oleh timses dan KPPS masuk dalam kategori sedang. Pengobatannya bisa dengan rawat jalan dan minum obat,” katanya. [end/beq]






