Surabaya (beritajatim.com) – Pertumbuhan ekonomi yang berbeda di tiap daerah di Jawa Timur secara tidak langsung menimbulkan kesenjangan. Sementara, permasalahan yang menjadi penghambat pertumbuhan tersebut seringkali tidak terselesaikan secara tuntas.
Berangkat dari fakta ini, 14 Perguruan Tinggi Vokasi (PKV) di Jatim menggabungkan diri dalam konsorsium untuk mencoba mencarikan solusi melalui Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah di Jawa Timur. Program ini disupervisi oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Direktorat Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sejak 2023.
Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Aliridho Barakbah menerangkan, latar belakang program ini adalah banyaknya persoalan di daerah yang tidak selesai. Di sisi lain, upaya penyelesaian dari persoalan tersebut bersifat sektoral.
“Kita sering mencoba menyelesaikan masalah itu sendiri-sendiri. Akhirnya selesai jangka pendek lalu muncul lagi masalah berikutnya karena penyelesaiannya sifatnya sektoral,” kata Ali saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Program Penguatan Ekosistem Kemitraan untuk Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah di Jawa Timur di Surabaya, Selasa (6/2/2024).
Menurut Ali, permasalahan yang terjadi di setiap daerah perlu penyelesaian dengan pelibatan lintas sektoral. Sehingga muncul solusi komprehensif.
“Kita mencoba mengembangkan potensi daerah dengan menginventarisir persoalan yang dihadapi daerah,” terang dia.
Melalui kegiatan ini, terang Ali, pihaknya mendorong agar terbentuk jejaring untuk mengidentifikasi persoalan secara bersama serta memaksimalkan potensi daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Karena setiap daerah punya potensi masing-masing. Bisa jadi masalah serta kendala di tiap daerah belum selesai,” kata Ali.
Ketua Konsorsium PTV Jatim, Amang Sudarsono menjelaskan, program ini bertujuan mengidentifikasi potensi daerah yang bisa dikembangkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Tak hanya itu, juga menjembatani kebutuhan daerah dengan sumber daya lokal yang terampil berbasis vokasi.
“Ada beberapa masalah yang menjadi tantangan seperti perkembangan ekonomi daerah, perkembangan industri, kualitas pengajaran, kurangnya keterlibatan industri, serta keselarasan potensi daerah serta skill SDM lokal,” kata Amang.
Dia melanjutkan, seringkali lulusan perguruan tinggi vokasi tidak terserap di daerah lantaran tidak adanya kesinambungan antara kebutuhan dengan skill SDM yang tersedia. Sehingga melalui program ini dapat dihasilkan lulusan yang mampu bekerja sesuai kebutuhan di suatu daerah.
“Kita juga punya tugas yaitu menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap bekerja dengan potensi daerah,” kata dia. [beq]






