Surabaya (beritajatim.com) – Lembaga riset independen, Kolokium.id menyebut adanya krisis informasi di kalangan anak muda terkait rekam jejak dan visi misi dari para calon legislatif (caleg) dalam kontestasi politik 2024.
Ketua Peneliti Kolokium.id Suko Widodo mengatakan, kontestasi politik saat ini cenderung terfokus pada dinamika pemilihan presiden. Akibatnya, anak muda kehilangan pemahaman mendalam terkait caleg.
“Para caleg inilah yang sebenarnya memiliki peran krusial dalam membuat undang-undang dan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari,” ujar Suko, Jumat (2/2/2024).
Hasil riset Kolokium.id menyebut bahwa sebanyak 81,7 persen anak muda menilai visi misi caleg adalah faktor utama dalam menentukan pilihan politik mereka.
Sedangkan 72,1 persen menyatakan bahwa rekam jejak tokoh politik memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan politik mereka.
“Para caleg seharusnya menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat. Sayangnya, banyak dari mereka gagal menyampaikan visi, misi, dan rekam jejaknya secara terbuka. Inilah penyebab anak muda mengalami krisis informasi dalam memilih wakilnya di legislatif,” tutur Suko.
Sukowi, sapaan akrab Suko Widodo itu menambahkan, di era digital ini, caleg memiliki kesempatan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan pemilih potensial mereka melalui platform online atau media sosial.
“Kampanye yang transparan dan informatif dapat memberikan gambaran yang lebih jelas kepada pemilih, khususnya generasi muda yang aktif di dunia maya,” kata Dosen Universitas Airlangga tersebut.
Sementqra itu, organisasi masyarakat sipil dan lembaga riset juga diharapkan dapat memainkan peran lebih aktif dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas dari para caleg.
“Melalui penyelidikan yang mendalam dan pengawasan yang ketat, masyarakat dapat memastikan bahwa para pemimpin terpilih benar-benar mencerminkan nilai dan aspirasi mereka,” jelas Suko.
Dalam situasi di mana informasi menjadi kunci dalam pengambilan keputusan politik, peran media massa dan masyarakat juga dinilai sangat vital untuk mendukung proses demokrasi.
Oleh sebab itu, krisis informasi yang dihadapi anak muda harus diatasi dengan upaya bersama, agar masa depan politik negara dapat dibentuk oleh pemilih yang terinformasi dan cerdas.
Riset Kolokium juga mengungkapkan bahwa sumber informasi utama bagi anak muda dalam mencari informasi politik adalah media digital, khususnya media sosial yang mencapai 74 persen.
Di sisi lain, penggunaan media konvensional seperti baliho tidak lagi diminati oleh anak muda, yang melihatnya sebagai perusak keindahan. Menyikapi itu, Suko menekankan perlunya perubahan strategi kampanye.
Ia menyarankan agar para caleg mulai memikirkan cara efektif menggunakan media sosial sebagai alat kampanye. Bukan sekadar memindahkan informasi dari baliho ke media sosial, tetapi mengoptimalkan media sosial sebagai alat penyampaian informasi interaktif, yang mampu menjangkau masyarakat secara terbuka.
“Keterbatasan akses informasi terkait visi, misi, dan rekam jejak caleg menjadi perhatian serius. Ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan perubahan pendekatan dalam kontestasi politik. Para pemilih muda harus diberikan akses lebih luas dan transparan terhadap informasi politik agar dapat membuat keputusan lebih informasional dan terdidik,” tandasnya.
Seiring dengan itu, upaya kolektif dari pihak berwenang, masyarakat sipil, dan media perlu dilibatkan untuk memastikan keberlangsungan demokrasi yang sehat dan informasional. [ipl/aje]






