Jember (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendukung penggunaan pupuk organik secara massif, di tengah berkurangnya pasokan pupuk bersubsidi dari pemerintah. Petani di sejumlah kota mulai menguatkan penggunaan pupuk organik dengan dukungan pemerintah daerah setempat.
“Kami sudah mengomunikasikan ini kepada Pak Amran (Menteri Pertanian Amran Sulaiman), dan mulai September kemarin sudah ada penambahan pupuk (bersubsidi). Jadi memang antara suplai dan pemenuhan kebutuhan belum berimbang, tapi kita sudah mendapatkan tambahan,” kata Khofifah, usai acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Muslimat dan Hari Lahir ke-101 NU di City Forest, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (31/1/2024).
Menurut Khofifah, opsi yang paling logis adalah penggunaan pupuk organik lebih massif. “Situbondo sudah mulai. Jember sebagian titik sudah mulai. Paling besar ada di Ngawi. Lebih besar lagi di Tuban. Itu luar biasa,” katanya.
“Saya datang berkali-kali ingin memastikan pupuk organik sudah efektif, massif, dam secara ekonomis sangat mengurangi ongkos operasional,” katanya.
Harga pembelian pemerintah (HPP) terhadap gabah sebesar Rp 5000 per kilogram. “Tapi di lapangan, harganya Rp 7 ribuan. Harga beras medium di Jawa Timur paling rendah se-Jawa. Jadi ini manajemen pengendalian harga pasar yang harus dilakukan semua pihak. Kalau HPP untuk padi, kita relatif tinggi. Artinya nilai tambah di petani. Kalau HPP (padi) tinggi, tapi harga berasnya terendah se-Jawa itu artinya semua lini membangun manajemen perberasan di Jawa Timur sangat baik,” kata Khofifah.
Selain berupaya mengatasi persoalan pupuk, Pemerintah Provinsi Jatim juga berusaha menekan peningkatan harga beras dengan melakukan operasi pasar murah sejak 1 September 2023. “Di Banyuwangi, Situbondo kita lakukan. Di Jember dan Bondowoso sudah beberapa kali. Kita berharap ini bisa memberikan penetrasi harga pasar yang semakin terjangkau oleh masyarakat,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, harga eceran tertinggi beras adalah Rp 10.900 per kilogram. “Tapi di pasaran bisa Rp 11.900. Kita jual di sini Rp 10.200. Tentu akan bisa membantu daya beli masyarakat di mana saja. Kita tidak hanya di kota-kota. Beberapa hari lalu, kita lakukan di Singosari (Malang), masuk lumayan jauh. Masyarakat memiliki antusiasme luar biasa,” katanya. [wir]






