Yogyakarta (beritajatim.com)– Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dengan sebutan Gus Mus memberikan pesan masyarakat, khususnya warga NU di tahun politik dan jelang pelaksanaan Pemilu. Adapun dawuh Gus Mus meminta pengurus NU jangan hanya ikut ikutan dan hura hura di tahun politik ini.
Dawuh Gus Mus untuk tetap konsisten menjaga kerukunan serta tidak berlebihan dalam mendukung capres serta cawapres tertentu.
Gus Mus juga mengingatkan pengurus NU yang ada di Jawa Tengah untuk lebih fokus ke politik kebangsaan dan kerakyatan. Memikirkan nasib petani yang belum sejahtera.
Gus Mus sepakat jika pengurus NU Jawa Tengah fokus penguatan akar rumput. Penguatan ekonomi masyarakat kecil. Warga NU harus disiapkan secara kolektif untuk kapasitas dan keilmuannya.
“Jangan hanya ikut-ikutan atau hura-hura saja. Jadi ketika ada yang minta dukungan ya didukung, biasa saja. Jadi tenang saja, tidak perlu tegang-tegangan, santai aja. Tidak perlu merengut (cemberut) terus-menerus. Hidup akhir zaman jangan banyak gaya. Syukur yang diperbanyak,” ucap Gus Mus mengutip siaran YouTube Kanal Mata Air
Gus Mus dawuh dan mengingatkan jika pengurus NU harus terus mengingat tujuan awal yakni menyantuni masyarakat, mengelola masyarakat dan mengurus masyarakat.
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini menambahkan perbedaan pilihan sesuatu yang alamiah dan akan berulang setiap kali pemilu datang.
Penyebabnya tentu ada banyak faktor, bisa karena kedekatan emosional, perbedaan sudut pandang, hingga beda dalam tujuan. Namun, ciri dari tokoh NU dan Nahdliyin sejak dulu selalu berpendapat berdasarkan dalil-dalil atau dasar yang kuat sehingga dalam setiap gerak-geriknya ada landasan yang kuat.
“Karena ketidaksamaan tersebut sesuatu yang alamiah. Beda itu fitrah, tidak ada salahnya beda,” dawuh Gus Mus.
Gus Mus juga mengingatkan, jangan sampai perbedaan pilihan dalam pemilu yang lima tahun sekali merusak pernikahan yang sudah dibangun puluhan tahun. Begitu juga pemilu tersebut tidak boleh merenggut persaudaraan dan memutuskan silaturahim.
“Suami istri beda pilihan itu tidak dosa, jangan bertengkar. Kenapa harus bertengkar, yang enak adalah calonnya. Kalian dapat apa ketika harus ngotot-ngototan?” kata Gus Mus.
Menurut Gus Mus, untuk menyikapi ketika ada yang meminta dukungan maka jika cocok, dukung dengan tanpa merusak hubungan suami istri dan persaudaraan. Karena nanti lima tahun kemudian akan ada calon baru lagi, beda kembali calonnya, calon yang didukung akan berbeda lagi.
“Nasihat saya, kalau kalian setuju. Di tahun politik ini, tenang saja. Ini sesuatu yang rutinan setiap 5 tahun sekali. Kalau teman kalian tidak sama pilihan sama kalian, ya tidak apa-apa,” tutur Gus Mus. [aje]






