Jember (beritajatim.com) – Gibran Rakabuming Raka, calon wakil presiden nomor urut 2, melemparkan pertanyaan berupa singkatan dan istilah yang tidak akrab di telinga publik, dalam dua kali debat kandidat yang digelar Komisi Pemilihan Umum.
Ternyata pertanyaan Gibran ini membuat netizen penasaran untuk mencari tahu dengan menguliknya di mesin peramban Google.”Kita harus akui, memberikan pertanyaan istilah asing bisa memberikan dampak positif, di mana banyak orang akan menelusuri apa-apa yang ditanyakan Gibran,” kata Ikwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (24/1/2024).
Saat debat cawapres putaran pertama, Gibran melontarkan pertanyaan soal SGIE kepada Muhaimin Iskandar dan regulasi carbon capture and storage kepada Mahfud MD. Pertanyaan soal SGIE membuat Muhaimin angkat tangan dan mengaku tidak tahu kepanjangannya. Apalagi Gibran tidak memberikan konteks yang jelas.
Mahfud MD saat itu juga memberikan jawaban tentang tata cara pembuatan regulasi secara umum dan tidak spesifik bicara soal regulasi carbon capture and storage. Gibran menyebut jawaban Mahfud tak tepat sasaran. “Simpel sekali, Pak, pertanyaan saya, Pak, Mohon dijawab, dijawab sesuai pertanyaan yang saya tanyakan, Pak, enggak perlu ngambang ke mana-mana, Pak, terima kasih,” katanya.
Teknik ini diulangi lagi oleh Gibran pada debat cawapres putaran kedua. Dia menanyakan soal greenflation atau green inflation alias inflasi hijau kepada Mahfud MD. Sementara untuk Muhaimin, ia bertanya soal LFP atau lithium feropospat, yang kerap digaungkan oleh tim sukses Anies-Muhaimin.
Dari dua putaran debat cawapres, Ikwan menyebut tim pasangan Prabowo-Gibran mampu menyiapkan isu-isu global mengenai kondisi ekonomi dunia dan konsekuensi pemakaian energi terbarukan. “Dikombinasikan dengan gaya cengengesan dan ejekan yang Gibran mainkan, publik semakin penasaran, sehingga mereka melakukan googling untuk mengetahui definisi istilah yang dilontarkan,” katanya.
Ikwan mengatakan, gara-gara pertanyaan soal greenflation, banyak media massa online dan televisi yang segera memberitakan pengertiannya. “Positifnya, publik akan membaca informasi-informasi terkait istilah asing tersebut. Ada proses membaca setelah debat yang patut diapresiasi,” lanjutnya.
Namun, Ikwan juga menyayangkan ketidakmampuan Gibran menjelaskan istilah asing yang dilontarkannya sendiri. Soal greenflation, misalnya, Gibran hanya menyebutkan aksi unjuk rasa di Prancis dan sama sekali tidak menjelaskan definisi yang dimaksud dan keterkaitan dengan pertanyaannya.
“Yang namanya greenflation atau inflasi hijau itu ya kita kasih contohnya demo rompi kuning di Prancis, bahaya sekali. Sudah makan korban. Ini harus kita antisipasi jangan sampai terjadi di Indonesia, intinya transisi menuju energi hijau itu harus super hati-hati,” kata Gibran dalam debat cawapres.
Belakangan, akhirnya terbongkar kekeliruan yang dilakukan Gibran soal greenflation. Dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional, Ikrar Nusa Bhakti dalam sesi talkshow di Metro TV, menyebut aksi rompi oranye setiap hari Sabtu di Paris disebabkan oleh greedflation, bukan greenflation.
“Itu penyebabnya pemerintah (Prancis) dianggap Greedy (tamak), memberikan pajak yang tinggi untuk sebuah bahan bakar yang harus dibeli oleh rakyat dengan harga yang tinggi. Sementara kalau greenflation itu kan bukan seperti yang dijelaskan oleh Gibran. Tapi perubahan dari misalnya tumbuh-tumbuhan yang harusnya buat makanan menjadi bahan bakar lalu ada nilai yang menjadi naik, nah itu yang disebut greenflation,” kata Ikrar.
Ketidakmampuan dan kekeliruan Gibran menjelaskan maksud pertanyaannya sendiri ini memantik sentimen negatif publik. Apalagi, Gibran sempat mengejek jawaban Mahfud dengan gerak-gerik seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di bawah meja tidak disukai publik. Saat debat pertama, dia mengejek Muhaimin dengan kalimat “Ya mohon maaf kalau pertanyaannya agak sulit ya Gus”.
“Dengan gaya ejekan dia terhadap cawapres lain, publik menilai bahwa istilah-istilah sulit yang disampaikan Gibran kepada Muhaimin dan Mahfud hanya bertujuan menjatuhkan mereka berdua. Gibran mendekonstruksi sendiri semua kehebatan yang ia pamerkan dengan perilaku dan ketidakmampuan memberikan penjelasan,” kata Ikwan.
“Beberapa informasi yang saya dapatkan dari kawan-kawan, banyak warga yang menonton debat ‘ngrasani’ Gibran dengan sebutan-sebutan yang sangat negatif. Begitupula ketika saya ke kampus, banyak aparatur sipil negara yang menunjukkan ketidaksimpatian kepada Gibran. Kalau ini terus menggelinding, tentu akan menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan,” kata Ikwan.
Ikwan membayangkan, seandainya Gibran sendiri mampu memberikan penjelasan singkat soal pertanyaannya sendiri, kemungkinan besar masyarakat sentimen positif akan meningkat. “Semua persepsi negatif terkait Gibran, mulai dari nepo baby, tidak pantas jadi pemimpin, dan yang lain sedikit banyak akan berkurang. Ia akan dianggap mengalami banyak kemajuan,” katanya. [wir]






