Malang (beritajatim.com) – Polresta Malang Kota mengultimatum tiga petinggi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dinilai menyesatkan publik. Di sisi lain, sejumlah petinggi BEM dari kampus di kota Malang justru mengaku tidak terlibat dengan aksi pada hari Jumat 12 Januari 2024 dan Selasa 16 Januari 2024.
Pernyataan soal ketidakterlibatan dalam aksi yang diduga menyesatkan publik itu, disampaikan oleh presiden EM Universitas Brawijaya (UB), wakil presma BEM Universitas Islam Malang (Unisma), wapresma Universitas Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), dan presiden mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Presiden EM UB, Rafly Rayhan Al-Khajri mengaku tidak terlibat dalam penyesatan informasi atau berita bohong apa pun. Namun, untuk solidaritas dan keadilan ia berupaya mengkonfirmasi kepada rekan BEM lain untuk validasi dugaan.
“Berita soal ultimatum mendesak kami untuk menekankan prinsip bahwa kami sangat berhati-hati dalam memahami kasus pengeroyokan yang viral belakangan ini, yang juga turut melibatkan mahasiswa UB. Sebab, kejadian terjadi di luar kampus dengan berbagai versi cerita,” ujar Rafly.
Sementara itu, sikap EM UM adalah menghormati segala proses hukum yang saat ini sedang berjalan. Ia juga akan mendengar berbagai sudut pandang untuk memperoleh informasi yang akurat dan mendesak agar segala bentuk upaya pengawalan penegakan hukum dan keadilan agar tidak dicederai.
Wakil Presiden BEM Unisma, Dodik Irwan Ahmad menyampaikan bahwa pihaknya tidak ikut terlibat dalam gerakan yang mencatut nama BEM Malang Raya dan BEM Nusantara Jatim itu.
“BEM Unisma tidak terlibat dengan gerakan yang seperti hanya dilakukan oleh sekelompok golongan itu,” kata Dodik.
Kholilur Rahman, wapres Unitri mengaku pihaknya tidak bisa memastikan soal kedua aksi pada 12 dan 16 Januari sebagai kepentingan bersama atau hanya oknum. BEM Unitri tidak dapat informasi apapun atau undangan konsolidasi dari pihak manapun.
“Sangat disayangkan semisal kabar yang beredar di media terkait penyebaran hoaks oleh BEM itu benar. Kami juga juga tidak terlibat apapun di aksi itu, karena presma saya dan saya tidak mendapatkan info terkait pembacaan aksi yang kemarin. Jadi kami bukan bagian dari aksi,” ungkap Kholiq menegaskan.
Yogi Syahputra Alidrus, ketua BEM UMM menyampaikan pihaknya tidak tidak ikut terlibat aksi yang dimaksud. “Kami tidak mau komentar karena UMM tidak ikut-ikutan,” katanya singkat. (dan/ian)






