Surabaya (beritajatim.com) – Mahfud MD akan tetap tegas dan idealis andai saja nanti mendapatkan amanah menjadi seorang wakil presiden. Ia tak ingin, reputasi yang sudah ia bangun sejak berpuluh-puluh tahun lalu itu rusak. Hal itu mengemuka saat ditanya mengenai idealisme saat menjadi wapres.
Pernyataan ini disampaikan Mahfud MD saat berdialog dengan Maria Simbolon, seorang Guru Sekolah Inklusi di Medan. Dialog bertajuk ‘Tabrak, Prof ! itu disiarkan langsung melalui kanal Mahfud MD Official, Minggu (14/1/2024) malam.
Dalam dialognya, Maria mengaku belum memutuskan untuk memilih calon presiden dan wakil presiden Indonesia ke depan. Sehingga, jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan kepada Mahfud diharapkan mampu meyakinkannya.
“Kami sadar sekali kalau Prof adalah orang idealis, tapi apa sikap idealis ini bisa akan tetap Prof bawakan saat menjabat nanti ? Kami bosan dengan politisi yang berjanji tapi melempem dan membisu ketika menjabat,” ujar Maria yang disambut sorak peserta dialog lain sembari meneriakkan Tabrak ! Tabrak !
Maria pun menanyakan langkah-langkah Mahfud dalam menangani persoalan praktik jual beli pasal dan jabatan ketika nantinya terpilih menjadi capres.
“Prof (Mahfud MD) orang hukum, pasti tahu selama ini apa kebuntuan dari reformasi hukum sampai penegakan hukum kita begini-begini saja, Prof ? Bila terpilih, apa janji profesor tentang praktik jual beli pasal dan jabatan ?,” tanya Maria.
“Kami percaya, Prof idealis. Tapi satu idealis, 10 tidak idealis, bagaimana?,” tambah Maria.
Menanggapi itu, Mahfud menegaskan jika dirinya akan tetap berada di jalur yang sudah ia jalani selama berkarir di dunia politik, yaitu tegas dan idealis. “Apakah saya akan tetap tegas, idealis ? Iya dong,” singkatnya.
Menkopolhukam RI itu lantas menceritakan secara lugas perjalanan karirnya hingga saat ini. Ia mengungkapkan, bahwa karir politiknya dimulai sejak awal reformasi. Jika dihitung, saat ini sudah berjalan selama 24 tahun.
“Mungkin ini adalah tahun saya yang terakhir, periode saya yang terkahir, kalau tuhan mengizinkan 5 tahun lagi. Saya tidak akan membuang reputasi saya selama 24 tahun ke belakang, lalu akan mengubah diri 5 tahun ke depan. Justru saya akan semakin tegas dan membuat jaringan-jaringan agar ketegasan itu menular ke birokrasi, di mana saya memimpin,” jelasnya.
Terkait praktik jual beli jabatan, Mahfud mengutip hasil riset dari SIGI Transparansi Internasional yang menyatakan bahwa korupsi di Indonesia terjadi di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
“Kita sudah tahu siapa pelakunya. Bahwa Indonesia itu koruptor-koruptornya ada di DPR, pengadilan, birokrasi. Caranya itu antara lain trading influence. Memperdagangkan pengaruh. Itu bagian dari korupsi sebenarnya. Oleh sebab itu, nanti menyelesaikannya di situ. Di aparat penegak hukum,” bebernya. [ipl/aje]






