Jember (beritajatim.com) – Tim Anti Perundungan dan Kekerasan pada Anak (APKA) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timurm mengingatkan dampak fatal perundungan bagi anak didik, pelajar di sekolah maupun santri di pesantren.
“Dampaknya tidak hanya putus sekolah bahkan bisa jadi sampai pada tindakan kekerasan untuk membalas rasa sakit hatinya,” kata Ketua Tim APKA Nurina Adi Paramita, sebagaimana dilansir Humas Unej, Senin (25/12/2023).
Menurut Nurina, upaya pemberantasan perundungan menghadapi tantangan besar, termasuk upaya penanganan kasus secara tuntas dan adil. “Saya berharap, seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi untuk menciptakan lingkungan pendidikan inklusif yang aman dan dapat mendukung perkembangan positif semua anak didik,” katanya.
Salah satu lingkungan pendidikan yang berpotensi menguatkan gerakan anti-perundungan adalah pesantren. Di sana pencegahan perundungan bisa dilakukan dengan penekanan pada nilai-nilai keagamaan, etika dan solidaritas sesama santri.
“Tidak cukup dengan sosialisasi. Pengelola pesantren juga harus terus berupaya meningkatkan kesadaran para santri tentang bahayanya perundungan dan meningkatkan pemahaman terhadap faktor-faktor penyebabnya,” kata Nurina. Jika lingkungan aman dan siswa dan santri saling mendukung, maka tidak ada lagi perundungan.
Salah satu pesantren yang giat mendukung gerakan anti-perundungan adalah Pondok Pesantren Darun Najah Al Irfany (PP DNI) Jember. Bahkan pengelola PP DNI bersama FISIP Universitas Jember sempat menggelar kegiatan sosialisasi anti-perundungan dan kekerasan, beberapa waktu lalu.
Gus Qudsi Arafat, pengasuh PP DNI, mengatakan, belum ada laporan kasus perundungan dan kekerasan antarsantri di sana. “Namun kami harus mengambil langkah antisipasi agar hal itu tidak terjadi di kemudian hari,” katanya.
Pendidikan yang aman dan inklusif membutuhkan peran berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Menurut Qudsi, Kampus harus ambil bagian untuk duduk bersama penyelenggara pendidikan tingkat menengah ke bawah, untuk mengembangkan solusi mengurangi terjadinya kasus perundungan dan kekerasan terhadap anak didik.
“Kami rasa kampus itu tempatnya para pakar yang ahli di bidang masing-masing. Oleh karena itu harapan kami kehadiran mereka di lingkungan pesantren dapat memperkuat nilai sikap positif dan empati di kalangan antar santri, sehingga perundungan dan kekerasan tidak lagi terjadi,” kata Qudsi. [wir]






