Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair) Baiq LS W Wardhani meminta agar masyarakat Indonesia tak cemburu dan membandingkan kondisi warga lokal dengan para pengungsi Rohingya.
Mengingat, kehadiran para pengungsi Rohingya di sejumlah kawasan di Indonesia tersebut berisiko menimbulkan kecemburuan sosial bagi masyarakat lokal.
Baiq mengatakan, para pengungsi itu mendapatkan tunjangan dari International Organization for Migration (IOM). IOM adalah Non-Govermental Organization (NGO) penyalur bantuan bagi para pengungsi.
Baiq menyebut bahwa karena melalui sudut pandang HAM, pengungsi Rohingya tetap manusia yang perlu dibantu dan mendapat hidup yang layak.
“Banyak yang menyangka bahwa bantuan yang diberikan adalah uang dari pemerintah Indonesia, padahal bukan. Itu adalah uang IOM. Perlu disebarkan informasi ini. Kita tidak dapat membandingkan kondisi para pengungsi dengan penduduk lokal,” jelas Baiq, ditulis Senin (25/12/2023).
Dalam upayan menangani permasalahan ini, pemerintah Indonesia juga sudah melakukan berbagai dialog kepada pemerintah Myanmar. “Maka sebagai sesama, kita perlu berdiri pada HAM, sudah sepantasnya Indonesia memberikan bantuan layanan kepada para pengungsi, seperti halnya layanan kesehatan dan lainnya,” katanya.
Kedatangan para pengungsi Rohingya menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Ketidakjelasan status warga Rohingya di negara asalnya mendorong mereka berbondong-bondong melarikan diri ke berbagai wilayah di Asia, terutama ASEAN.
Gelombang tinggi kedatangan para pengungsi itu pun seolah-olah menjadi PR besar bagi pemerintah. Bahkan, beberapa waktu lalu, Wapres RI Ma’ruf Amin mengusulkan agar para pengungsi ini sementara waktu diungsikan ke salah satu pulau di Sumatera, yakni pulau Galang.
Menanggapi hal itu, Baiq merasa bahwa itu dapat dijadikan sebagai solusi yang membantu. Pasalnya, terkumpulnya para pengungsi pada satu titik akan memudahkan pemerintah melakukan kontrol pergerakan para pengungsi.
“Memang, saya kira itu solusi yang membantu. Cuma, apakah itu keputusan yang tepat ? Saya kira perlu dikaji ulang. Kenapa kok dipilih pulau di Kepulauan Riau? Kenapa kok nggak di tempat lain ? Apa alasannya ?” ujar Dr Baiq.
Melihat sebelumnya banyak beredar video para pengungsi yang melanggar norma sosial yang berlaku di Acehz kejadian tersebut turut membuat resah masyarakat setempat.
Menurut Baiq, memberikan satu tempat kepada para pengungsi pun dapat mengurangi risiko adanya konflik dengan warga lokal. “Kalau mereka tidak ditampung ke tempat lain, itu akan sulit untuk kita. Mereka bisa macam-macam, bisa menimbulkan chaos dan menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan masyarakat lokal,” tandasnya. [ipl/suf]






