Jakarta (beritajatim.com) – Berbeda dengan pasangan capres dan cawapres lain, pasangan capres dan cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD kompak mengenakan pakaian adat saat mengikuti debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ganjar mengenakan kain tenun ikat Rote (NTT) lengkap dengan Topi Ti’i Langga dan Mahfud MD mengenakan pakaian adat Madura.
TPN Ganjar-Mahfud pun menjelaskan makna baju adat daerah dalam Debat Pilpres kedua:
Kain tenun ikat Rote yang diigunakan Ganjar ditenun oleh perempuan Rote dengan kesabaran dan ketelitian. Keindahan dan kerapihan kain tenun Rote merupakan standar kesempurnaan perempuan Rote untuk bisa menikah, berumah tangga dan mengurus keluarga.
Makna Motif Kain Tenunan Rote juga mencerminkan perlambangan diri dari strata sosial keluarga masyarakat Rote. Makna topi Ti’ilangga menunjukkan keperkasaan, kepemimpinan dan kehormatan laki-laki Rote. Kalung berbentuk bulat yang posisinya berada tepat di hati melambangkan satu hatinya masyarakat Rote sebagai satu kesatuan yang tidak terputus dengan ikatan persaudaraan yang kuat, senantiasa bergandeng tangan dan memiliki spirit gotong royong dalam kehidupan sosial bersama.
Sementara Baju Pesak dan Odheng yang Dipakai Mahfud MD menggambarkan pemimpin dengan kesederhanaan dan ketegasan garis-garis merah putih tegas tersusun horizontal dibalut baju serta celana hitam. Inilah pesak, pakaian laki-laki khas Pulau Madura yang bersahaja nan ikonik, mencerminkan kerendahan hati sekaligus ketegasan jiwa. Tak jarang Prof Mahfud Md sang cawapres pertama dan Pulau Madura mengenakan pakaian ini dalam seremoni resmi, hingga yang terkini debat Cawapres Pemilu 2024 yang bertema ekonomi, sederhana namun penuh makna. Itulah gambaran orang Madura sekaligus pakaian khasnya. Pakaian Madura ini memiliki simplisitas yang justru membuat penggunanya terlihat tegas. Ukuran longgar memberi banyak ruang gerak, melambangkan kebebasan dan keterbukaan yang dijunjung tinggi.
Selain itu, Warna Merah Putih pada Pakaian Adat Madura memiliki simbol ketegasan dan tingginya semangat juang laki-laki Madura, serta hitam sebagai simbol gagah berani dan pantang menyerah. Di bagian kepala terdapat odheng, penutup kepala berwarna merah bata yang melambangkan Alif, huruf hijaiyah yang pertama. Segitiga kembar pada odheng acalah simbol dua hal yang saling melengkapi segitiga ke bawah lambang kerendahan hati dan segitiga ke atas lambang ketegasan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam pakaian Madura ini sejalan dengan karakter Mahfud yang tertuang dalam ‘tas-tes’ dalam penegakan hukum di indonesia. Memaknai akarnya, Mahfud selalu tampil dalam kesederhanaan dan juga tegas untuk membela yang benar. Dua nilai yang selama ini muncul dalam aksinya menegakkan hukum, iniakan terejawantahkan dalam diskursus ekonomi bagaimana pemahaman beliau akan rakyat menjadi modal untuk membangun ekonomi kerakyatan dan bagaimana ketegasan beliau akan membantu intervensi pemerintah untuk pengyaran. ekonomi, sebagai regulator, fasilitator, maupun akselerator. (Hen/Aje)






