Jember (beritajatim.com) – Gara-gara seorang warga melahirkan di tepi jalan desa, pengurus Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) mempersoalkan pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, termasuk penggunaan ambulans desa.
Hal ini terungkap saat pengurus Apdesi mendatangi kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, Kamis (21/12/2023). Ketua Dewan Pengurus Cabang Apdesi Jember Kamiludin mengatakan, kejadian tersebut menunjukkan ada sesuatu yang salah.
“Menurut kami, ini karena lemahnya akses ambulans desa, tidak aktifnya Ponkesdes (Pondok Kesehatan Desa) atau puskesmas (pustu), sehingga membuat warga yang tidak mampu ini melahirkan di puskesmas. Sedangkan jarak puskesmas jauh,” kata Kamiludin.
Warga yang dimaksud Kamiludin tersebut bernama Holila (36), tinggal di Dusun Krajan, Desa Jambesari, Kecamatan Sumberbaru. Bayi perempuan yang dikandungnya dilahirkan dalam perjalanan menuju puskesmas saat diantarkan suami bersepeda motor, di Desa Kaliglagah, Rabu (20/12/2023) dini hari.
Selama masa kehamilan, Holila tidak pernah memeriksakan diri ke posyandu maupun puskesmas. Tidak ada petugas kesehatan yang tahu, jika dia sedang hamil tua. “Saya malu. Anak saya banyak,” katanya.
Hal ini disesalkan Kamiludin, Menurutnya, jika puskesmas pembantu (pustu) aktif dan memiliki sumber daya manusia yang memadai, maka peristiwa itu tidak akan terjadi.
Apdesi juga menyoroti masih tingginya angka tengkes (stunting) di Jember. “Hal ini jadi preseden buruk, kalau masalah persalinan dan kehamilan tidak terlayani dengan baik,” kata Kamiludin.
Kamiludin tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Apdesi hanya ingin ada solusi konkret terhadap persoalan tersebut. “Kami menuntut Dinkes untuk mengaktifkan kembali pustu dan ponkesdes di 226 desa. Dengan ketersediaan anggaran, ada perawat dan bidan minimal dua orang yang aktif stand by di masing-masing desa,” katanya.
Apdesi juga meminta kepada Dinkes untuk tidak memberlakukan aturan terlalu birokratis dalam pemanfaatan ambulans desa dan sopirnya. “Karena ada banyak keluhan di masing-masing desa, menggunakan ambulans terlalu sulit dan terlalu birokratis, sedangkan banyak kebutuhan di warga,” kata Kamiludin. Dinkes juga diminta untuk selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan kepala desa.
Kepala Dinkes Jember Hendro Soelistijono siap menerima kritik dan saran dari Apdesi. “Ini saran yang konstruktif, karena apapun pasti beliau-beliau sayang kepada kami dan memberikan saran untuk meningkatkan pelayanan. Tentunya dalam rangka memastikan pelayanan yang bermutu dan aman, kami akan segera berbenah,” katanya.
Hendro menilai tidak ada saran yang buruk. “Kami harus melakukan introspeksi diri untuk segera berbenah dan melakukan investigasi dalam rangka perbaikan pelayanan ke depan,” katanya.
Mengenai kritik terhadap keberadaan pustu, Hendro mengatakan, pustu dibentuk karena beberapa desa tidak memiliki petugas kesehatan. “Jadi dibentuk puskesmas, jejaringnya adalah pustu. Pustu ini membawahi tiga sampai empat desa yang aksesnya jauh dari puskesmas,” katanya.
Seiring dengan perkembangan zaman, setiap desa memiliki perawat dan bidan. “Otomatis kunjungan ke pustu semakin menurun. Efektivitasnya kami pandang kurang. Oleh karenanya ada beberapa petugas pustu yang kami sarankan langsung berada di desa-desa, dan itu aksesnya lebih cepat,” kata Hendro.
Menurut Hendro, masih ada pustu yang tetap dibutuhkan warga. “Intinya tidak semua pustu kosong. Tapi pustu-pustu yang tingkat kunjungannya rendah, merugikan dalam pembiayaan, karena petugasnya sudah turun ke desa masing-masing,” katanya.
Soal tudingan birokratisnya penggunaan ambulans desa, Hendro menegaskan, ambulans desa diperuntukkan warga tidak mampu. “Ketika orang meminta dirujuk ke rumah sakit swasta, logika berpikirnya adalah orang itu orang mampu. Kalau orang mampu, seharusnya secara akses akan mudah,” katanya.
Petugas akan melihat tingkat kedaruratan jika calon pengguna ambulans desa termasuk warga mampu. “Kalau gawat darurat, entah mampu atau tidak, tidak ada pilihan. Kalau orang tidak mampu, seharusnya lebih berhak menggunakan ambulans desa,” kata Hendro. [wir]






