Blitar (beritajatim.com) – Pasca 10 tahun direlokasi, Pasar Pahing Kota Blitar masih mati suri. Bukannya jadi pusat perekonomian, pasar yang berada di simpang empat jalan Mahakam Kelurahan Tanjungsari Kota Blitar itu justru seperti bangunan mangkrak yang tidak berpenghuni.
Penyebabnya tentu berbagai macam, mulai dari lokasi yang kurang strategis hingga konsep pasar yang dinilai kurang representatif. Secara konsep, keberadaan Pasar Pahing Kota Blitar memang kurang terlihat dari luar atau jalan. Sehingga warga secara tidak langsung akan enggan untuk mampir berbelanja ke Pasar Pahing.
Memiliki kapasitas tampung untuk 40 pedagang lebih. Lapak Pasar Pahing Kota Blitar kini hanya ditempati kurang dari 10 pedagang saja. Awalnya lapak-lapak di Pasar Pahing Kota Blitar ini ditempati oleh para pedagang, namun karena sepi lambat laun akhirnya mereka angkat kaki satu persatu.
“Itu kan sudah sepuluh tahun lebih ya, maka depan itu akan kami buka biar kelihatan agar konsumen tertarik mampir,” kata Hakim Sisworo, Kepala Disperindag Kota Blitar, Rabu (19/12/23).
Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar, keberadaan Pasar Pahing saat ini telah kalah bersaing dengan online shop. Menjamurnya perdagangan melalui media sosial membuat para konsumen meninggalkan pasar konvensional.
“Saat ini kan banyak online shop jadi kalah saing ini yang akan kami upayakan agar pasar Pahing bisa hidup kembali,” tegas Hakim.
Maka dari itu, Disperindag Kota Blitar akan melakukan berbagai trobosan agar menghidupkan kembali Pasar Pahing. Langkah awal yang akan ditempuh yakni Disperindag bakal membongkar pagar depan pasar yang justru menutupi keberadaan pasar Pahing.
“Diawal ini hanya akan kita buka saja kalau direnov anggaran lagi ya kalau ramai kalau tetep sepi buang-buang anggaran,” tutupnya. (owi/ted)






