Jakarta (beritajatim.com) – Indonesia telah memasuki era baru dalam industri baterai listrik dengan menggandeng dua raksasa global, CATL dan LG, dalam upaya memproduksi baterai kendaraan listrik hingga 400 gigawatt per hour (GWH).
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Toto Nugroho, memaparkan sejumlah keuntungan besar yang akan tercipta dari langkah hilirisasi ini.
Toto mengungkapkan bahwa kerja sama dengan kedua perusahaan tersebut merupakan langkah strategis, dengan investasi mencapai ratusan triliun rupiah untuk membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir. Mulai dari pembangunan smelter dengan teknologi HPAL hingga komponen baterai, semua akan menjadi bagian dari upaya hilirisasi ini.
“Kemitraan dengan LG, produsen baterai EV terbesar di dunia, dan CATL, yang merupakan produsen terbesar nomor satu di dunia, adalah langkah yang sangat strategis,” ujar Toto.
IBC sendiri berencana memulai produksi baterai kendaraan listrik sebesar 10 GWH dan 5.000 stasiun penukaran baterai pada tahun 2024 melalui kerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan, LG dan Hyundai.
BACA JUGA:
Gen Z Berpotensi Kantongi Ratusan Juta Melalui Hilirisasi
Menurut Toto, manfaat dari hilirisasi ini sangat besar bagi Indonesia. Selain pengurangan emisi CO2 hingga 14 juta ton per tahun yang setara dengan 8-10 persen transportasi, Indonesia juga akan mengalami penurunan impor BBM yang signifikan.
“Mobil listrik dapat menghemat hampir 26 juta barel, dengan nilai ekonomi sekitar US$4-5 miliar per tahun,” ungkapnya.
Investasi dari LG dan CATL di Indonesia juga diharapkan akan memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. “Dengan investasi sebesar US$10 miliar, perkiraan pendapatan yang dapat dihasilkan mencapai ribuan triliun rupiah dalam 30 tahun,” jelas Toto yang merujuk pada verifikasi oleh lembaga independen dari Universitas Indonesia.
BACA JUGA:
Kemenlu Bekali Calon Duta Besar dan Konjen Soal Industri Hilirisasi Smelter PT Freeport Indonesia
Selain manfaat ekonomi yang besar, industri ini juga diharapkan akan menciptakan lapangan kerja yang luas. Selama proyek berjalan, diperkirakan sekitar 150 ribu orang pekerja akan terserap.
Dengan langkah besar dalam hilirisasi baterai listrik ini, Indonesia tidak hanya berpotensi menjadi pusat produksi baterai terkemuka, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi serta kesempatan kerja bagi masyarakat. Langkah ini diharapkan akan mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi konvensional. [beq]






